19 Desember 2025
06 Desember 2025
Ekologi yang Dikhianati, dan Rancaekek yang Dipaksa Menanggungnya
12 November 2025
Ketika Surga Menjadi Sunyi: Membaca Just Like Heaven dan Fatherless di Hari Ayah
Hari Ayah datang seperti bayangan yang lembut namun berat. Di sebagian rumah, tawa dan ucapan terucap ringan; di sebagian lainnya, hanya ada keheningan yang menua bersama ingatan. Tak semua rindu punya alamat, dan tak semua kasih sempat diucapkan. Musik menjadi bahasa paling jujur untuk hal-hal yang gagal kita katakan. Salah satunya melalui lagu Just Like Heaven dari The Cure — sebuah karya yang berbicara tentang cinta, kehilangan, dan kerinduan yang tetap hidup bahkan setelah kehadiran menghilang.
Dalam Just Like Heaven, Robert Smith menulis seolah sedang merayakan cinta. Ritmenya ringan, melodinya berlari, namun di dalamnya bersembunyi getir yang dalam. Surga yang ia sebut bukan tempat abadi, melainkan momen fana yang terasa sempurna sebelum akhirnya menguap. Lirik “I found myself alone above a raging sea” menyingkap paradoks yang menyentuh: di balik kebahagiaan selalu ada potensi kehilangan. Lagu ini, seperti kenangan akan pelukan ayah yang dulu hangat namun kini hanya berupa gema, menjadi simbol betapa segala yang kita sebut surga mungkin hanya sementara. Namun justru di situlah keindahannya bahwa kasih tak harus abadi untuk bisa berarti.
Hari Ayah, dengan segala simbolnya, bukan hanya perayaan atas figur, tapi juga refleksi atas luka dan warisan emosional yang kita bawa dari mereka. Sebab dalam setiap anak yang tumbuh, selalu ada bayangan ayah — entah hadir atau absen, nyata atau hanya berupa nama yang kita bisikkan dalam doa. Cinta seorang ayah sering kali tidak diucapkan dalam kata, melainkan dikerjakan dalam diam: di jam-jam pagi yang dingin, di langkah yang terburu, di kerja yang tak sempat menyaksikan tumbuh anaknya.
Maka bagi mereka yang ayahnya tak sempat mengantar ke sekolah, ingatlah:
“Tak semua ayah sempat mengantar anaknya ke sekolah, tapi setiap langkah anak itu tetap membawa namanya.”
Continue Reading11 November 2025
Disiplin
Disiplin itu dipromosikan seperti skincare ajaib yang katanya bisa memperbaiki hidup cuma dengan dipakai rutin. Padahal yang jual omongan itu hidupnya sendiri masih berantakan, target meleset, manajemen waktu amburadul, tapi tetap sok penceramah tentang komitmen dan produktivitas.
Orang-orang mengangkat disiplin setinggi langit, seakan itu malaikat penjaga karier. Padahal aslinya ya cuma suara alarm yang berisiknya minta ditampar. Dia datang pagi-pagi buta, bergaya seperti konsultan manajemen, padahal kalau disiplin itu manusia, dia pasti tipe rekan kerja yang kontribusinya minim tapi paling rajin ngasih feedback.
Yang lucu, yang paling getol ngomong soal disiplin biasanya justru yang moral deadline-nya paling goyah. Begitu telat kirim laporan, mereka nyalain rapat, jaringan, cuaca, dan sejarah bangsa, pokoknya semua kecuali diri sendiri. Produktif sekali dalam urusan alasan.
Disiplin itu juga tidak pernah sensitif terhadap kondisi manusia. Kamu capek, pusing, patah hati, atau ingin hilang dari peradaban, dia tidak peduli. Dia cuma berdiri dengan wajah datar dan bilang kerja terus, gerak terus, evaluasi terus. Andai dia makhluk hidup, sudah lama dia dilaporkan ke HR karena toxic.
Tetap saja, meski cara kerjanya menyebalkan, kita butuh dia. Tanpa disiplin, hidup bakal mirip data penting yang tidak pernah di backup: rusak sedikit langsung hancur total. Kita tidak perlu menyukainya, cukup tunduk sedikit agar hidup tidak berubah jadi tumpukan keputusan keliru.
Akhirnya disiplin itu bukan mentor bijaksana. Dia satpam masa depan yang cerewet dan sinis. Tapi dia satu-satunya yang berani ngomong terang-terangan bahwa kalau kita terus menggampangkan hidup, masa depan cuma akan jadi laporan kerusakan, bukan rencana yang bisa dibanggakan.
10 November 2025
Laut yang Menghubungkan Kita: Mochtar Kusumaatmadja dan Wawasan Nusantara di Hati Anak 90-an
Setiap tanggal 10 November, saat bangsa ini memperingati Hari Pahlawan Nasional, kita diajak untuk mengenang bukan hanya mereka yang berjuang dengan bambu runcing, tapi juga mereka yang menyalakan obor lewat pikiran. Mochtar Kusumaatmadja adalah salah satunya. Ia bukan pejuang di medan perang, tapi pahlawan di meja diplomasi memperjuangkan agar dunia mengakui bahwa Indonesia adalah satu kesatuan, bukan sekumpulan pulau yang kebetulan berdekatan.
Dalam pelajaran IPS, istilah Wawasan Nusantara sering terdengar seperti konsep berat. Tapi kalau dipikir lagi, itu sebenarnya semacam puisi sosial tentang persatuan. Mochtar mengajarkan bahwa laut yang tampak memisahkan kita sesungguhnya adalah tangan yang merangkul semua perbedaan. Bahwa bangsa ini, dari Sabang sampai Merauke, dari ujung pesisir sampai kota-kota yang sibuk, adalah satu keluarga besar yang hidup di antara ombak dan angin tropis.
Kini, ketika kita hidup di zaman serba daring di mana jarak terasa dekat tapi hati kadang terasa jauh gagasan Mochtar terasa makin relevan. Wawasan Nusantara bukan cuma peta politik, tapi juga peta perasaan: mengingatkan kita untuk tidak lupa bahwa Indonesia dibangun oleh kesadaran saling terhubung. Sama seperti dulu laut yang menyatukan para pelaut dan pedagang, sekarang jaringan digital seharusnya menyatukan kita, bukan memisahkan.
08 November 2025
Ledakan Makna di SMA 72: Kisah Luka, Tanda, dan Identitas yang Tak Diberi Ruang
Ledakan yang mengguncang SMA 72 Jakarta pada awal November bukan hanya suara benda yang meledak; ia adalah suara dari sesuatu yang jauh lebih dalam suara dari tanda-tanda yang selama ini diabaikan. Di masjid sekolah, ruang yang semestinya menjadi tempat teduh, tiba-tiba pecah oleh dentuman kekerasan. Dan di balik dentuman itu, kita menemukan sebuah artefak: senjata rakitan dengan ukiran “Welcome to Hell”, dihiasi nama-nama pelaku kekerasan masjid dari belahan dunia lain Tarrant, Traini, Bissonnette sosok-sosok yang tidak seharusnya hadir di ruang belajar anak-anak.
Polisi menyebut kemungkinan bahwa pelakunya adalah seorang siswa yang “sering dibully”, seorang remaja yang keberadaannya berjalan di garis pinggir sosial sekolah. Dan di sinilah narasi itu berubah: ini bukan sekadar tindakan kriminal, bukan sekadar “anak yang iseng dengan senjata”, melainkan potret utuh dari bagaimana simbol-simbol ekstrem menjadi bahasa baru bagi mereka yang kehabisan cara untuk menyampaikan diri.
Bullying tidak pernah hanya menjadi candaan antarteman atau kenakalan kecil. Dalam semiotika sosial, bullying adalah sistem tanda bahasa yang mengatur siapa yang layak didengar dan siapa yang harus diam. Setiap ejekan, setiap tatapan meremehkan, setiap tepukan palsu di punggung, setiap penyingkiran dari kelompok tugas, semuanya menyampaikan pesan yang sama: kamu tidak dihitung di sini. Pesan itu menumpuk setiap hari, dan semakin menumpuk, semakin keras pula ia bergema di dalam dada anak yang menerimanya.
Dan ketika dunia nyata menutup pintu, dunia simbol membuka jendelanya. Anak yang terpinggirkan akan mencari makna di tempat-tempat yang tidak dibayangkan orang dewasa: di video game, di forum gelap, di meme yang menertawakan kekerasan, di estetika hitam-merah yang tampil seperti grafis pemberontakan. Nama-nama teroris global itu bukan dipilih karena ideologinya dipahami, tetapi karena mereka tampil sebagai ikon ketangguhan semu tokoh yang dianggap “berani melawan”, meski yang dilawannya adalah kemanusiaan itu sendiri.
Masjid sekolah yang menjadi lokasi ledakan itu, dalam analisis semiotik, bukan sekadar tempat kejadian. Ia adalah simbol yang dirusak. Ruang tenang tempat anak-anak bernaung seakan dipilih sebagai panggung untuk menunjukkan betapa jauh remaja itu telah berjalan dari batas aman. Ketika ruang suci ditembus oleh tanda-tanda kegelapan, kita bukan hanya melihat tindakan, tetapi pesan: bahwa rasa aman tidak lagi merasuk ke hati seseorang yang setiap hari diremehkan.
Narasi tentang siswa pendiam yang dibully ini tidak boleh dibaca sebagai “faktor kecil”. Ini adalah inti persoalan. Bullying menciptakan jurang, dan di ujung jurang itu, simbol-simbol ekstrem menunggu dengan tangan terbuka. Budaya pop menyediakan visual, warna, gaya, meme, dan kata-kata yang bisa dipungut siapa saja. Sementara sekolah, kadang tanpa sadar, menyediakan sunyi yang cukup luas bagi seorang remaja untuk merasa tidak terlihat oleh siapa pun.
Ketika dunia digital menyediakan ikon yang tampak kuat, dan dunia nyata menyediakan tatapan yang meremehkan, pilihan bagi remaja tertentu tampak seperti garis yang tak terhindarkan. Ia meminjam bahasa kekerasan untuk mengganti bahasa dirinya yang hilang. Ia mengambil nama-nama yang tidak pernah ia temui untuk melawan nama-nama yang setiap hari merundungnya. Ia menulis “Welcome to Hell” bukan karena ia ingin menghancurkan dunia, tetapi karena dunia telah lama menulis pesan serupa di punggungnya melalui perlakuan teman sebaya.
Tragedi ini mengajarkan kita bahwa tanda-tanda kecil selalu muncul lebih dulu sebelum tindakan besar pecah. Doodle kecil di buku, tulisan aneh di dinding, wallpaper ponsel bergambar tokoh gelap, perubahan sikap, keheningan yang semakin dalam semuanya adalah teks yang dapat dibaca jika kita mau memperhatikan. Sekolah sering sibuk dengan absensi, nilai, dan rapat, tetapi lupa bahwa kehidupan batin anak-anak jauh lebih ramai daripada daftar kehadiran.
Dalam kacamata semiotik, ledakan di SMA 72 bukan hanya ledakan fisik. Ia adalah letusan simbol-simbol yang tak pernah ditafsirkan. Ia adalah jeritan dari bahasa yang dibentuk oleh bullying, oleh rasa sunyi, oleh estetika ekstrem, oleh dunia digital yang menawarkan pelarian sekaligus jebakan. Ia adalah peringatan bahwa kekerasan tidak lahir tiba-tiba; ia selalu diawali tanda.
Dan tanda itu sering muncul di wajah anak yang kita kira baik-baik saja.
Peristiwa ini akhirnya mengingatkan kita bahwa tugas sekolah bukan hanya memastikan kurikulum berjalan, tetapi memastikan makna hidup seorang anak tetap utuh. Bullying bukan persoalan disiplin semata; ia adalah persoalan identitas. Dan ketika identitas retak, simbol-simbol gelap akan mengambil alih pekerjaan kita.
Ledakan di SMA 72 adalah tragedi. Tetapi ia juga undangan undangan untuk membaca lebih peka, mendengar lebih dalam, dan tidak pernah lagi mengabaikan bahasa luka yang selama ini kita anggap sebagai kenakalan kecil.
06 November 2025
Guru IPS, Ledakan Demografi, dan Tantangan Zaman Digital
---
“Kita hidup di zaman digital, tapi kadang masih disuruh menulis masa depan di selembar kertas ujian.
Siapa bilang pelajaran IPS itu membosankan? Justru di dalamnya tersimpan kisah besar tentang manusia, perubahan sosial, dan cara kita menata masa depan. IPS bukan sekadar hafalan peta atau teori ekonomi, tetapi latihan berpikir kritis untuk memahami dunia, dunia yang kini tak lagi dibaca lewat buku semata, melainkan juga lewat layar.
Kini di banyak sekolah, Interactive Flat Panel (IFP) berdiri megah di depan kelas. Layarnya berkilau, menampilkan dunia dalam bentuk interaktif: grafik populasi bergerak, peta konflik muncul dalam warna, dan berita dunia tersaji hanya dengan satu sentuhan. Guru IPS memandu murid menafsirkan data, menghubungkannya dengan realitas sosial di sekitar. Semua terasa futuristik, sampai tiba hari ulangan.
Tiba-tiba, semuanya kembali ke kertas. Printer kembali bekerja keras, tinta habis, dan murid memegang lembar soal seperti tiket menuju masa lalu. Digitalisasi memang sering gagah di seminar, tapi rapuh di lapangan: Wi-Fi yang angin-anginan, kuota internet yang habis sebelum jam pelajaran selesai, atau gawai yang harus berbagi dengan adik di rumah.
Di tengah gegap gempita teknologi, muncul paradoks lain: ledakan demografi. Jumlah generasi muda meningkat pesat, membawa energi, kreativitas, dan harapan, tetapi juga tantangan besar bagi dunia pendidikan. Sekolah penuh oleh murid yang lahir digital, tapi banyak ruang kelas yang belum siap secara digital. Kita punya bonus demografi, tetapi belum tentu punya bonus infrastruktur.
Di sinilah pelajaran IPS menemukan urgensinya. Guru IPS tidak hanya mengajarkan konsep penduduk usia produktif, tetapi juga memaknai apa artinya menjadi produktif di zaman penuh distraksi. Ia menjelaskan tentang struktur sosial sambil mengaitkannya dengan struktur jaringan, tentang pembangunan ekonomi sambil menyinggung ekonomi digital, tentang perubahan budaya sambil mengingatkan agar tidak kehilangan akar kemanusiaan.
Digitalisasi, IFP, dan Information and Future Perspective (IFP) seharusnya berjalan seiring dengan kesadaran sosial. Bahwa teknologi hanyalah alat, bukan tujuan. Bahwa kemajuan tanpa keadilan sosial hanya akan melahirkan jurang baru, antara yang punya akses dan yang tertinggal.
Maka guru IPS hari ini bukan sekadar pengajar, tapi penafsir zaman. Ia berdiri di antara layar dan lembar ujian, di antara data dan kenyataan, di antara bonus demografi dan keterbatasan teknologi. Ia mengingatkan murid-muridnya, masa depan bukan sesuatu yang bisa diunduh, tapi harus dihidupi, dipahami, dan diperjuangkan.
“Ledakan demografi bisa jadi berkah atau bencana, semuanya tergantung, apakah pendidikan kita sekadar menyalakan layar, atau juga menyalakan kesadaran.”
22 Oktober 2025
Emanasi Ketuhanan dan Liberasi Kemanusiaan: Menafsir Hari Santri secara Transendental

Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri sebuah momentum yang bukan hanya mengingat sejarah, tetapi juga menafsirkan ulang makna keberagamaan dalam tubuh kebangsaan. Dalam perjalanan sejarah, santri bukan sekadar sosok berpeci dan bersarung yang tekun mengaji, melainkan emanasi ruh bangsa: pancaran spiritual yang menjiwai kesadaran sosial, moral, dan politik.
Dari pesantren-pesantren yang tersembunyi di antara sawah dan gunung, lahir gelombang kesadaran baru tentang kebebasan dan tanggung jawab. Resolusi Jihad 1945 yang dipelopori KH. Hasyim Asy’ari menjadi simbol bagaimana kesalehan individual bisa bertransformasi menjadi gerak sosial yang revolusioner. Dari ruang-ruang ngaji yang sederhana, santri belajar bahwa cinta kepada Tuhan tidak boleh terpisah dari cinta kepada tanah air. Nasionalisme bukan barang pinjaman, melainkan buah dari iman yang tumbuh dalam rahim pesantren.
Dalam filsafat, emanasi berarti pancaran yang keluar dari sumbernya tanpa kehilangan asalnya. Begitu pula santri: ia lahir dari tradisi ketuhanan, namun tetap berpijak di bumi. Nilai-nilai Ilahiah yang disemaikan di pesantren memancar ke ranah sosial, membentuk etika kolektif yang sederhana tapi kokoh. Ketika santri berjuang, ia tidak memisahkan mihrab dari medan perang; keduanya adalah satu bentuk ibadah yang sama.
Namun perjuangan santri tak berhenti pada heroisme masa lalu. Dalam konteks sosiologis, santri adalah gerakan liberasi—pembebasan dari kolonialisme, kebodohan, dan ketergantungan pada sistem yang menindas kesadaran. Jika dulu kolonialisme menindas tubuh, maka modernitas menindas pikiran. Pesantren menjadi ruang perlawanan yang sunyi, tempat manusia dibebaskan dari belenggu materialisme dan ketaklidan. Liberasi santri bukan semata soal senjata dan pertempuran, melainkan pencerahan akal, penjernihan hati, dan keberanian untuk berpikir merdeka dalam bingkai nilai-nilai spiritual.
Namun yang paling esensial dari semua itu adalah transendensi. Santri sejati tahu bahwa perjuangan sosial tanpa kesadaran spiritual akan kehilangan arah. Ia bergerak, bekerja, dan berjuang bukan untuk dunia semata, tetapi untuk mencapai makna hidup yang lebih tinggi. Transendensi menjadi puncak dari segala gerak: melampaui batas duniawi untuk menyentuh langit, melampaui ego untuk kembali kepada sumber segala cahaya. Dalam perjalanan itu, santri tidak hanya menjadi warga negara yang baik, tetapi juga hamba yang sadar bahwa segala pengorbanan akhirnya bermuara pada Allah.
Hari Santri, dengan demikian, bukan sekadar ritual peringatan, melainkan refleksi atas keberlanjutan ruh kebangsaan. Ia mengingatkan kita bahwa iman dan perjuangan sosial adalah satu tarikan napas. Dari emanasi lahir gerak, dari liberasi lahir kesadaran, dan dari transendensi lahir kedamaian.
Selama masih ada santri baik di pesantren, sekolah, kampus, pabrik, atau ruang digital selama itu pula Indonesia masih memiliki ruh yang hidup. Sebab di tangan santri, agama tidak menjadi beban, melainkan cahaya; dan Indonesia tidak sekadar tempat tinggal, melainkan medan ibadah
Continue Reading18 Oktober 2025
Yang Tidak Menikmati Filsafat: Catatan tentang Maskulinitas yang Rapuh
Mungkin memang benar, semua laki-laki sama. Mereka lahir dari rahim yang berbeda, tapi tumbuh di bawah bayang sistem yang sama, patriarki yang menyanjung ketegasan dan memusuhi keraguan. Sejak kecil mereka diajarkan untuk menahan tangis, menekan rasa, dan menyimpan diam di balik dada yang dipaksa tampak kuat.
Aku sering berpikir, seperti yang ditulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya, bahwa manusia kehilangan kejujuran karena takut menjadi berbeda. Laki-laki pun demikian. Mereka menyeragamkan diri demi diterima, bukan karena ingin benar-benar menjadi dirinya sendiri. Dalam dunia yang terlalu ramai oleh simbol kejantanan, menjadi reflektif dianggap ganjil, menjadi lembut dianggap kalah.
Ahmad Wahib pernah menulis bahwa manusia beriman bukan yang berhenti bertanya, tapi yang terus mempertanyakan Tuhan agar imannya tidak membatu. Aku rasa begitu pula laki-laki terhadap dirinya. Menjadi laki-laki yang utuh bukanlah soal memiliki otot atau status, tapi berani bertanya siapa aku di tengah sistem ini, dan apa yang telah kulakukan terhadap diriku sendiri.
Namun tidak semua laki-laki menikmati filsafat. Tidak semua sanggup menanggung rasa sepi yang datang saat berpikir. Filsafat menelanjangi ketakutan terdalam, membuka luka yang selama ini ditutup oleh gengsi sosial. Banyak laki-laki yang berhenti di pinggir jalan kesadaran, menutup diri di balik tawa dan karier, karena berpikir terlalu dalam bisa membuat mereka kehilangan pegangan, kehilangan citra, kehilangan tempat berpijak.
Padahal mungkin di situlah kemanusiaan bermula. Saat seseorang mulai berani merasa asing terhadap dirinya sendiri. Ketika seorang laki-laki berhenti menjadi produk sosial dan mulai menjadi subjek yang sadar. Sosiologi mengajarkan bahwa identitas bukanlah pemberian, melainkan hasil negosiasi yang terus-menerus dengan dunia sosial. Maka laki-laki yang mau menikmati filsafat adalah mereka yang berani menegosiasikan kembali siapa dirinya, di luar apa yang diharapkan masyarakat darinya.
Soe Hok Gie pernah menulis, lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dan aku kira, laki-laki yang berani berpikir, yang berani menolak seragam peran sosialnya, memang sedang menyiapkan diri untuk diasingkan. Tapi justru dalam keterasingan itu, lahir kemerdekaan yang paling sejati, kesadaran bahwa menjadi manusia lebih penting daripada menjadi laki-laki yang ideal di mata masyarakat.
Catatan 18 Oktober. Malam ini aku berpikir tentang bagaimana kesunyian kadang lebih jujur dari keramaian. Tentang laki-laki yang sibuk membangun citra, tapi lupa menatap dirinya sendiri. Mungkin benar, semua laki-laki sama, tapi hanya sedikit yang berani berjalan di lorong sunyi kesadaran, menikmati filsafat, dan berdamai dengan ketakutan yang selama ini disembunyikan oleh kejantanan.
Continue Reading17 Oktober 2025
Jatinangor Tempat Cinta Dosa dan Skripsi Berbaris Rapi
Jatinangor itu bukan sekadar nama daerah ia adalah semacam “universitas kehidupan” buat ribuan anak rantau yang datang dengan koper, tas ransel, dan mimpi yang masih mulus kayak baju wisuda yang belum dipakai. Semua datang dengan harapan tinggi, lalu pelan-pelan dibenturkan dengan realita: angkot ngetem, kosan bocor, dan tugas kuliah yang jumlahnya lebih banyak dari isi dompet.
Di minggu pertama kuliah, semua masih wangi-wangi. Mahasiswa baru jalan ke kampus pakai kemeja rapi, rambut klimis, senyum penuh semangat. Tapi dua bulan kemudian, kemeja berubah jadi hoodie belel, sepatu putih jadi abu-abu, dan wajah penuh kantung mata. Di sinilah Jatinangor mulai menunjukkan wataknya: kota kecil yang akan menguji siapa yang beneran niat kuliah dan siapa yang cuma numpang ngekos.
Perjuangan mahasiswa di sini kadang nggak kelihatan. Mereka belajar di kamar sempit yang cuma muat kasur busa tipis dan galon air, masak mie rebus jam dua pagi karena lapar tapi warung udah tutup, atau kerja sambilan di kafe sepulang kuliah biar bisa bayar sewa kos. Ada yang bangun subuh bukan karena rajin salat, tapi karena antre kamar mandi satu buat lima orang.
Mimpi-mimpi besar mulai dililit kenyataan kecil: revisi bab tiga, dosen killer, deadline mendadak, dan jaringan Wi-Fi kos yang lebih sering hilang ketimbang muncul. Tapi entah kenapa, semua tetap lanjut. Mungkin karena jauh di lubuk hati, mereka tahu: gelar sarjana ini bukan cuma buat diri sendiri. Ini buat emak-bapak di kampung yang tiap bulan ngirim uang sambil nahan napas. Buat tetangga yang suka nyombong, “Tuh, anaknya kuliah di Jatinangor!” Buat diri sendiri yang pengin buktiin: hidup bisa ditempuh dengan kaki sendiri, meski jalannya becek dan tanjakannya bikin ngos-ngosan.
Tentu, Jatinangor juga ladang cinta dan dosa. Dari kosan belakang kampus sampai Warmindo Sepang, banyak kisah asmara tumbuh subur, ada yang mekar sampai pelaminan, ada juga yang layu di tengah jalan karena… skripsi. Tapi di balik semua drama cinta dan dosa, ada naskah perjuangan yang nggak pernah ditulis: bagaimana anak-anak muda ini belajar bertahan, bermimpi, dan tumbuh jadi orang dewasa meski kadang masih ngutang di warung sebelah.
Jatinangor mengajarkan bahwa hidup bukan soal siapa paling cepat lulus, tapi siapa paling tahan banting. Yang kuat bukan cuma yang pinter, tapi yang tetap bisa ketawa meski revisi balik lagi kayak mantan yang nggak tahu malu.
14 Oktober 2025
Between Mosque and Mountain: A Qualitative Glimpse into the Spiritual Tug of War in Kampung Mahmud
12 Oktober 2025
Cerita dari Kampung Adat Kuta dan Mahmud
Di sebuah tikungan jalan antara modernitas yang terus melaju dan tradisi yang enggan tunduk, ada dua kampung yang memilih berjalan pelan: Kampung Kuta di Ciamis dan Kampung Mahmud di pinggiran Bandung. Keduanya tidak sekadar “kampung adat” dalam pengertian turistik; mereka adalah ruang-ruang sunyi yang menjadi saksi panjang tarik-ulur sejarah, spiritualitas, dan modernitas yang kerap datang seperti badai.
Kampung Kuta tersembunyi di lembah perbukitan, bagai halaman kitab tua yang belum selesai dibaca. Tidak ada rumah beratap seng, tidak ada kendaraan bermotor yang berseliweran. Warganya hidup dalam kesederhanaan yang bukan romantisasi, melainkan bentuk disiplin kultural yang diwariskan turun-temurun. Di sini, modernitas tak ditolak mentah-mentah, tapi disaring dengan laku hidup kolektif yang nyaris seperti “konstitusi tak tertulis”. Setiap sudut kampung seperti menyimpan perjanjian diam-diam antara manusia dan alam: sebuah etika ekologis yang tidak dikhotbahkan, tetapi dijalani.
Sementara itu, Kampung Mahmud berdiri di tepian Sungai Citarum, menyimpan kisah tentang dakwah dan penyebaran Islam di tanah Pasundan. Modernitas menyapa lebih dekat ke Mahmud dibanding Kuta. Namun, di tengah gempuran urbanisasi Bandung Raya, Mahmud tetap teguh menjaga kesakralan tata ruang dan ritus keagamaannya. Rumah-rumah tradisional berdiri berdampingan dengan bangunan semi permanen, menciptakan lanskap sosial yang unik: setengah menatap masa lalu, setengah menatap masa depan. Mahmud tak menutup diri dari dunia luar, tapi ia menegaskan batas: modernitas boleh masuk, tapi dengan tata krama.
Di titik inilah gagasan Soedjatmoko terasa relevan. Intelektual publik ini pernah mengingatkan bahwa modernitas di Indonesia bukanlah soal menyalin Barat secara mentah, melainkan proses pencarian bentuk rasionalitas yang berpijak pada kebudayaan sendiri. Modernitas, katanya, seharusnya menjadi usaha sadar untuk menumbuhkan nilai-nilai modern dalam konteks masyarakat kita, bukan sekadar mengejar teknologi dan pembangunan fisik. Jika nasihat itu kita dengar dengan saksama, maka keberadaan Kuta dan Mahmud bukanlah anomali melainkan cermin kecil dari kemungkinan modernitas Indonesia yang lebih berakar.
Kuta menolak penggunaan material industri dalam bangunannya bukan karena ketinggalan zaman, tetapi karena mereka memahami betul ritme alam dan spiritualitas lokal sebagai fondasi kehidupan. Mahmud pun bukan sekadar kampung religius; ia menunjukkan bagaimana agama dapat menjadi kerangka moral dalam menghadapi tekanan modernisasi urban. Dalam arus besar pembangunan yang seringkali menyingkirkan ruang-ruang kultural, dua kampung ini memilih bernegosiasi dengan zaman, bukan menyerah padanya.
Soedjatmoko juga menyoroti bahwa modernitas sering datang ke Indonesia dalam bentuk proyek negara dari atas ke bawah, seragam, sering mengabaikan keanekaragaman lokal. Tapi di Kuta dan Mahmud, modernitas tidak “datang”, melainkan dinegosiasikan perlahan-lahan oleh komunitas itu sendiri. Inilah bentuk “rasionalitas lokal” yang tak kalah modern, meski tampil sunyi. Mereka memilih mengatur ruang hidup dan ritus sosialnya sesuai logika sendiri, bukan logika pasar atau kota.
Pada akhirnya, modernitas bukan sekadar deru mesin dan kilatan layar gawai. Ia juga bisa berupa keputusan sunyi untuk tetap menanam padi dengan cara lama, untuk tetap menata rumah kayu tanpa paku besi, untuk tetap menjaga tata ruang kampung sebagaimana diwariskan leluhur. Modernitas, seperti diingatkan Soedjatmoko, adalah soal kesadaran dan pilihan, bukan sekadar soal kecanggihan.
Kampung Kuta dan Kampung Mahmud mengajarkan kepada kita bahwa zaman boleh berubah, tetapi manusia punya hak untuk menentukan bagaimana ia akan hidup di dalamnya. Mereka bukan museum hidup, bukan pula objek wisata eksotis. Mereka adalah penafsir zaman menunjukkan bahwa ada modernitas yang bisa lahir dari kesunyian, dari doa, dari kesetiaan pada tanah.
Dan mungkin, justru di situlah letak modernitas Indonesia yang sesungguhnya: bukan sekadar ikut arus global, tapi berani menentang dengan cara sendiri, dalam jejak sunyi yang menolak deru zaman.
GELAR AULIA.Sos
Continue Reading27 September 2025
Receh, Romantis, Realitas: Paket Lengkap Generasi Patah Tulang
18 September 2025
Extractor secret Code
Kode OTP
Bookmarklet untuk akses cepat kode OTP
16 September 2025
Skandal Cinta Kosmik
14 September 2025
Guru IPS, Ledakan Demografi, dan Tantangan Zaman Digital
Siapa bilang pelajaran IPS itu membosankan? Justru di dalamnya ada cerita besar tentang dunia kita, tentang manusia, dan tentang masa depan bangsa. Nah, tantangan guru IPS sekarang makin unik, karena murid-murid hidup di era digital, sementara di luar sana kita menghadapi “ledakan demografi” alias jumlah generasi muda yang makin membengkak.
Bayangkan sebuah kelas SMP. Guru membawa peta besar, sementara murid-murid lebih sibuk dengan ponselnya. Dunia sudah berubah. Data mengalir cepat, video satu menit bisa menjelaskan sejarah perang dunia, dan istilah seperti deep learning atau kecerdasan buatan pun mulai mampir di telinga remaja. Guru IPS tak bisa lagi hanya membaca buku teks. Ia harus kreatif, mengaitkan teori dengan kehidupan nyata murid.
Kalau diajarkan dengan cara begitu, IPS jadi terasa dekat, nyata, bahkan seru. Murid bukan cuma menghafal istilah, tapi juga melihat bahwa mereka bagian dari cerita besar yang sedang berlangsung.
Ledakan demografi bisa jadi bonus, bisa juga jadi beban. Semua tergantung bagaimana generasi muda dipersiapkan. Guru IPS punya peran penting di sini: bukan hanya mengajar, tapi juga menginspirasi. Bukan hanya menjelaskan peta, tapi menyalakan kompas dalam diri murid, agar tahu ke mana harus melangkah.
Jadi, mari kita lihat lagi peran guru IPS di sekolah. Ia bukan sekadar penjaga hafalan, tapi penenun masa depan. Dengan adaptasi, kreativitas, dan hati yang hangat, pelajaran IPS bisa berubah dari “mata pelajaran hafalan” menjadi “mata pelajaran kehidupan.”
10 September 2025
Cerita tentang PIP

PIP adalah cerita yang selalu berulang tiap tahun ajaran baru. Sebuah program yang lahir dari niat baik, tetapi sering berjalan dengan langkah pincang. Anak-anak di kelas bertanya lirih kepada gurunya, “Bu, saya dapat tidak?” Pertanyaan sederhana, tetapi di belakangnya ada wajah orang tua yang sudah resah menghitung biaya ongkos harian, buku tulis, dan seragam baru yang tak kunjung terbeli.
Di papan pengumuman sekolah, nama-nama penerima tercetak rapi. Beberapa siswa bersorak kecil, sisanya hanya menelan ludah. Di ruang Tata Usaha, fotokopi kartu keluarga, KIP, dan buku tabungan menumpuk seperti bukti kemiskinan yang harus diulang-ulang agar dipercaya. Seakan-akan miskin masih harus dipamerkan di atas kertas agar layak dianggap miskin.
Lalu tibalah hari pencairan. Bank penuh sesak dengan antrean. Ada tawa lega dari yang berhasil mencairkan, ada wajah hampa dari yang namanya tidak pernah muncul. Di tengah keramaian itu, terselip kenyataan pahit: PIP tidak selalu hadir untuk yang paling membutuhkan, tetapi lebih sering menjadi semacam undian ada yang beruntung, ada yang menunggu, ada yang terus kecewa.
PIP memang menolong, tetapi juga menorehkan getir. Ia menjanjikan agar tidak ada anak yang putus sekolah, tetapi ongkos angkot tidak bisa dibayar dengan janji, dan harga beras tidak turun hanya karena nama tercantum di daftar penerima.
Meski begitu, orang tua tetap menunggu. Guru tetap mendata. Anak-anak tetap berharap. Dalam hidup yang serba pas-pasan, bahkan secuil bantuan pun menjadi alasan untuk terus bertahan.
Begitulah PIP: sebuah cerita getir yang terus diulang, setiap tahun, di setiap sekolah, di setiap keluarga yang berjuang di tengah kekurangan.
PIP bukan sekadar angka dalam rekening, melainkan sebuah simbol:
bahwa negara, setidaknya, mencoba hadir di antara deru langkah kecil
anak-anak menuju masa depan.
G.A
Tendik Dibatas Api
Continue Reading
08 September 2025
Cinta Eksistensi Absurditas dan Revolusi
Jean-Paul Sartre pernah menulis bahwa cinta adalah proyek yang hampir mustahil. Dua kebebasan bertemu, lalu saling mencoba memiliki. Tetapi kebebasan, pada hakikatnya, tidak bisa dipenjara. Maka setiap upaya untuk menjadikan cinta sebagai kepemilikan sering berujung pada kegagalan. Dari situ lahirlah kecemburuan, luka, pengkhianatan. Cinta berubah dari pelukan hangat menjadi borgol emas.
Namun Albert Camus, sahabat eksistensial yang lebih riang, mengingatkan kita: jangan menuntut makna final dari cinta. Sama seperti hidup, cinta itu absurd. Kita mencintai meski tahu akhirnya bisa hancur. Kita mengulang jatuh cinta meski sadar batu itu akan menggelinding turun seperti nasib Sisyphus. Dan di sanalah justru letak keberanian kita. Cinta tidak harus menjanjikan kekekalan, cukup menjadi alasan untuk tersenyum di tengah absurditas.
Nietzsche masuk dengan teriakannya yang khas. Ia menolak cinta yang tunduk pada moral lama, pada dogma, atau pada tata aturan yang mencekik. Baginya, cinta harus menjadi afirmasi hidup: teriakan lantang bahwa kita berani berkata “iya” pada dunia, sekalipun dunia itu kejam dan penuh kehancuran. Cinta bukan sekadar rasa, tetapi juga ledakan vitalitas, sebuah cara untuk menari di tepi jurang sambil tetap merasa hidup.
Di sudut lain, Marx menatap kita dengan senyum getir. Ia tahu cinta tak pernah steril dari ekonomi politik. Kapitalisme menjual cinta dalam bentuk paket bulan madu, perhiasan, iklan parfum, bahkan dalam algoritma aplikasi kencan. Cinta dijadikan komoditas, dipasarkan, diberi harga. Kita sering mengira sedang mencinta, padahal sebenarnya hanya sedang memainkan skrip yang ditulis oleh pasar. Marx mengingatkan bahwa ada relasi produksi bahkan dalam pelukan paling mesra.
Mikhail Bakunin, sang anarkis, tak mau kalah. Ia berteriak bahwa cinta sejati hanya bisa lahir dari kebebasan mutlak. Tidak ada negara, tidak ada hukum adat, tidak ada tangan besi yang boleh mengatur siapa boleh mencintai siapa. Bagi Bakunin, cinta adalah api revolusi kecil yang menyala di dada manusia yang menolak diperintah. Cinta menjadi ruang perlawanan, tempat dua orang merobohkan tembok yang membatasi kebebasan mereka.
Maka cinta tampil bukan hanya sebagai bunga, tapi juga sebagai pisau. Ia bisa menjadi absurditas yang lucu, bisa menjelma nihilisme yang getir, bisa tergelincir menjadi komoditas, atau justru meledak menjadi revolusi. Cinta bukan sekadar soal hati, tapi juga soal tubuh, soal struktur, soal kebebasan. Ia bisa membuat manusia pasrah, tapi juga bisa membuat manusia berontak.
Dan pada akhirnya, kita hanya bisa mengaku: cinta adalah pilihan. Ia tidak menunggu izin dari Tuhan, pasar, atau negara. Ia lahir dari keberanian manusia untuk menggenggam tangan seseorang, meski tahu genggaman itu rapuh. Ia berdiri di atas tanah yang retak, menatap langit yang kosong, tapi tetap berani berkata: aku memilihmu.
Itulah cinta eksistensial, absurd, komoditas, sekaligus revolusi. Sebuah paradoks yang, justru karena itulah, terus membuat kita hidup.
07 September 2025
Jurusan Sosiologi: Kritikus Dunia, Penonton Realita
Mari kita jujur. Sosiologi di UIN Bandung sering kali terasa kayak konser musik tanpa sound system: teorinya banyak, tapi suaranya nggak pernah sampai ke luar kelas. Kita diajari Marx, Weber, Durkheim, Parsons, bahkan nama-nama yang bikin lidah kepleset, tapi giliran keluar kampus, realitas sosial jalan terus tanpa pernah menoleh ke kita.
Kampus lebih sibuk mencetak sarjana ketimbang mencetak keberanian. Ujung-ujungnya, jurusan ini mirip pabrik—mesin administrasi yang ngeluarin ijazah dengan barcode, bukan ruang produksi pemikiran. Hasilnya? Lulusan yang hafal teori struktur-agensi, tapi bingung menjelaskan kenapa tukang parkir bisa lebih berkuasa daripada mahasiswa semester akhir.
Bahasa yang dipakai pun seperti mantra yang nggak bisa dipahami masyarakat. Skripsi ditulis dengan jargon tebal, tapi orang tua di rumah cuma bisa geleng kepala: “Jadi, kamu empat tahun kuliah belajar apa?” Kuliah lapangan? Lebih mirip wisata akademik. Jalan ke kampung, tanya tiga pertanyaan, foto bareng, lalu pulang. Padahal Bandung dan Jawa Barat penuh kasus sosial yang bisa jadi laboratorium hidup, dari banjir Dayeuhkolot sampai relasi patron-klien di pasar tradisional.
Ironisnya, psikologi bisa laku di Instagram karena ngomongin mental health, antropologi keren karena bisa nulis soal budaya dan kuliner, sementara sosiologi sibuk dengan seminar berjudul panjang yang audiensnya hanya mahasiswa sosiologi itu sendiri. Ilmu yang katanya kritis justru kehilangan ruang publik.
Jurusan ini butuh keberanian buat keluar dari pabrik pencetak pekerja. Sosiologi seharusnya bukan sekadar tiket jadi dosen atau admin kantor, tapi cara membaca dunia. Kalau terus begini, sosiologi akan tetap jadi ilmu yang “lengkap di buku, kosong di jalanan.” Sebuah disiplin yang pandai mengkritik, tapi takut dikritik.
Jujur saja, kalau sosiologi UIN Bandung tidak berani merombak diri, cepat atau lambat ia akan kalah relevan dibanding tukang rokok eceran yang lebih mengerti jaringan sosial daripada mahasiswa yang hafal Habermas.
Continue Reading04 September 2025
Tentang Sosiologi
Sosiologi itu apa sih? Banyak yang bilang ini ilmu serius tentang masyarakat tapi jangan salah, sosiologi itu sebenarnya ilmu yang paling kepo, cerewet, dan kadang ngeselin tapi seru. Tugasnya bukan cuma bikin teori ribet di buku, tapi ngintip, nanya, dan ngerti kenapa orang bisa hidup bareng walau beda-beda banget.
Sosiologi itu kayak detektif kehidupan sehari-hari. Misalnya, lihat anak-anak nongkrong di kantin: siapa yang duduk sama siapa, siapa yang cuma numpang eksis buat story Instagram, atau kenapa ada yang selalu bawa bekal macem-macem padahal bisa beli di kantin. Semua hal kecil itu menarik buat sosiologi. Setiap kebiasaan sehari-hari, dari antre makan, gaya bahasa di TikTok, sampai poster demo di sekolah, bisa jadi “materi sosiologi” yang seru untuk dianalisis.
Yang bikin sosiologi gokil adalah ia bisa serius tapi nggak serius-serius amat. Ia punya teori, punya sejarah panjang, punya tokoh-tokoh keren kayak Auguste Comte atau Karl Marx. Tapi di sisi lain, sosiologi juga hobi ngejek kebiasaan sosial yang dianggap normal. “Normal” itu buat siapa? Diproduksi siapa? Itulah pertanyaan yang bikin sosiologi kayak teman ngobrol yang selalu kepo tapi lucu.
Sosiologi ngajarin kita untuk ngeliat dunia dari banyak sudut. Gaya hidup teman-teman, tren media sosial, sampai ritual kecil di sekolah semua bisa dianalisis. Dan lucunya, seringkali hal-hal yang kita anggap biasa justru menyimpan makna besar. Misalnya, siapa yang selalu kebagian tugas kelompok, siapa yang jadi “pengamat” di lapangan olahraga, atau kenapa poster tertentu bisa bikin ramai di sekolah.
Selain itu, sosiologi itu punya sisi satir senang menertawakan hal-hal yang sok serius. Misal, acara resmi di sekolah kadang lebih mirip sandiwara daripada rapat beneran. Sosiologi bilang: “Eh, lihat deh, ini manusia lagi main peran!” Tapi dari situlah kita belajar banyak: kenapa kekuasaan bisa jalan begitu, bagaimana solidaritas terbentuk, dan kenapa kita harus sadar sama dunia sosial kita.
Jadi, sosiologi itu bukan cuma tentang buku dan teori. Ia tentang melihat hidup sehari-hari dengan mata kritis tapi tetap enjoy, menikmati tanda tanya, dan ngerti bahwa hidup sosial nggak pernah sesederhana yang kita kira.
Singkatnya: sosiologi itu seru, cerewet, kadang ngeselin, tapi bikin kita pinter melihat dunia. Serius tapi santai. Kritik tapi bisa ketawa. Dan yang paling penting: bikin kita sadar kalau dunia ini penuh warna, absurd, tapi asik untuk ditafsirkan.
30 Agustus 2025
Anarkisme Imitatif dan Krisis Kolektivitas Gerakan Sosial di Indonesia
Fenomena anarkisme imitasi yang kerap muncul dalam demonstrasi di Indonesia merupakan gejala menarik dalam dinamika gerakan sosial kontemporer. Jika sebelumnya aksi massa identik dengan konsolidasi, kesadaran politik, serta solidaritas kolektif, kini muncul pola baru yang lebih menekankan performa simbolik ketimbang substansi perjuangan. Kelompok yang kerap disebut sebagai “anarko cabe-cabean” menghadirkan bentuk perlawanan instan yang berorientasi pada gaya dan estetika, dengan mengadopsi simbol-simbol gerakan anarkis global seperti pakaian serba hitam, masker, serta aksi vandalisme terhadap ruang publik.
Dalam perspektif poskolonial, fenomena ini dapat dipahami melalui konsep mimicry yang dikemukakan oleh Homi K. Bhabha. Mimicry adalah praktik meniru simbol, gaya, dan narasi dari “yang lain”, dengan harapan memperoleh legitimasi atau identitas tertentu. Namun peniruan ini tidak pernah sepenuhnya sama; ia hadir sebagai bentuk hibrid yang justru menyingkap keterasingan. Anarkisme imitasi di Indonesia menampilkan ciri khas mimicry tersebut: sebuah gerakan yang meniru simbol-simbol perlawanan global tanpa keterhubungan yang mendalam dengan realitas lokal.
Padahal, secara historis, anarkisme di Eropa dan Amerika Latin tumbuh dari basis sosial yang berbeda. Ia lahir dari pergulatan panjang kelas buruh dalam masyarakat industrial, berhadapan dengan struktur kapitalisme maju dan represi negara. Ketika simbol-simbol ini diimpor ke Indonesia tanpa dialektika dengan kondisi sosial setempat yang lebih banyak ditandai oleh struktur rural, patronase politik, serta dominasi ekonomi informal hasilnya bukanlah penguatan gerakan, melainkan reduksi makna demonstrasi menjadi sekadar pertunjukan.
Implikasi dari fenomena ini cukup serius. Kolektivitas yang dahulu menjadi landasan gerakan mahasiswa mulai tergerus, karena publik justru melihat demonstran sebagai ancaman terhadap ruang publik, bukan sebagai representasi aspirasi rakyat. Legitimasi gerakan pun melemah, sebab aksi-aksi destruktif memperkuat stigma bahwa demonstrasi tidak lebih dari kerusuhan. Yang tersisa hanyalah citra “pemberontakan kosmetik”, perlawanan yang sibuk menampilkan kostum dan gaya, tetapi miskin analisis terhadap problem struktural yang dihadapi masyarakat.
Dengan demikian, apa yang disebut sebagai anarkisme cabe-cabean lebih tepat dipahami sebagai ekspresi subkultural ketimbang praksis politik yang serius. Ia merupakan hibrid yang terjebak dalam logika mimicry: meniru tanpa mampu menanamkan makna kontekstual. Alih-alih memperkuat perlawanan, gerakan ini justru mengikis solidaritas, mengasingkan basis sosial, dan menjerumuskan aksi massa ke dalam ruang performatif yang dangkal.
Agar gerakan sosial kembali memperoleh legitimasi, diperlukan reposisi strategi yang berakar pada realitas konkret masyarakat Indonesia. Demonstrasi hanya akan bermakna apabila lahir dari denyut nadi rakyat, bukan dari simbol impor yang kehilangan relevansi. Kolektivitas tidak bisa dibangun dari kostum hitam atau semprotan cat, melainkan dari kesadaran bersama akan ketidakadilan yang nyata di hadapan kita.
Continue Reading24 Agustus 2025
Pendidikan Mendalam, Pendidikan yang Memanusiakan
Di zaman ini, kita sering terjebak pada dua kutub: di satu sisi, semangat administratif yang kering, penuh laporan, nilai, dan angka; di sisi lain, idealisme luhur yang kadang terasa jauh dari ruang kelas yang sesungguhnya. Namun pendidikan tak boleh berhenti di salah satunya. Ia mesti berakar di tanah realitas, tapi juga tumbuh menjulang ke langit cita-cita.
Deep learning hari ini bukan sekadar istilah teknologi. Ia adalah ajakan agar kita tidak lagi melihat belajar sebagai tumpukan hafalan. Belajar mesti menembus, menggali, melampaui permukaan. Seperti halnya Paulo Freire yang menekankan kesadaran kritis, pendidikan harus membangunkan murid dari tidur panjang ketidaksadaran, mengajak mereka membaca dunia, bukan hanya membaca kata.
Di tanah air kita, Ki Hadjar Dewantara telah lama menanamkan benih yang sama. Baginya, pendidikan adalah soal budi pekerti, kedirian, dan kemerdekaan. Tut wuri handayani bukan sekadar slogan di dinding kelas, melainkan kompas yang seharusnya menuntun arah: guru membimbing dengan teladan, menginspirasi dengan semangat, dan mendampingi tanpa mengikat.
Di sinilah peran guru wali menjadi sentral. Ia bukan sekadar “penjaga absen” atau “pengawas kedisiplinan”. Guru wali adalah penjaga jiwa di tengah gelombang sistem. Ia menjadi tempat bertanya, tempat curhat, tempat murid merasa dilihat bukan hanya sebagai angka dalam daftar nilai, melainkan sebagai manusia dengan mimpi, luka, dan potensi yang unik.
Jika kurikulum hari ini menekankan “pembelajaran mendalam”, maka guru wali adalah nahkoda yang menuntun kapal kecil bernama kelas menuju samudra makna. Ia memastikan setiap murid tidak karam, tapi menemukan pelabuhan mereka masing-masing. Ia menghubungkan gagasan-gagasan lama yang penuh kebijaksanaan dengan dunia baru yang penuh ketidakpastian.
Maka, ketika teknologi semakin mendominasi, ketika birokrasi kadang membuat kita letih, kita mesti kembali pada hakikatnya: pendidikan adalah perjalanan memanusiakan manusia. Deep learning hanya akan bermakna bila ia tidak sekadar berhenti di perangkat digital atau istilah akademik, melainkan hidup dalam dialog, kasih sayang, dan pendampingan nyata di ruang kelas.
Pendidikan yang mendalam bukanlah pendidikan yang menjejalkan, melainkan pendidikan yang membuka. Ia ibarat taman: siswa adalah benih, guru adalah pengair, dan kurikulum hanyalah pagar agar arah tumbuh tidak liar. Yang kita jaga adalah kehidupan yang bertunas, bukan angka yang beku.
Akhirnya, kita belajar lagi dari Freire: bahwa pendidikan sejati adalah praktik kebebasan. Dan kita belajar lagi dari Ki Hadjar: bahwa pendidikan adalah untuk kemerdekaan manusia. Dua gagasan ini bertemu di masa kini, menyapa kita dengan wajah baru bernama deep learning.
08 Agustus 2025
GARDA PROLETARIAT
27 Juli 2025
Nanjung dan Determinisme Ekonomi
Di sebuah lekuk jalanan Kabupaten Bandung yang padat namun perlahan tergerus modernitas, terletak sebuah wilayah yang namanya jarang muncul dalam wacana pembangunan: Nanjung, bagian dari Kecamatan Margaasih. Ia bukan desa yang hening, tetapi juga bukan yang bising. Di sana, kehidupan bergulir seperti air di selokan yang mengalir lambat, membawa cerita-cerita kecil yang sering tak terbaca oleh laporan-laporan resmi pemerintah.
Masyarakat Nanjung umumnya bekerja di sektor informal. Data dari BPS Kecamatan Margaasih (2023) mencatat lebih dari 56% warga usia produktif di desa-desa sekitar termasuk Nanjung bekerja sebagai buruh pabrik, pekerja harian lepas, atau pedagang kecil. Sementara hanya sekitar 12% yang bekerja di sektor formal atau aparatur negara. Pendidikan rata-rata warga berhenti di tingkat SMA, dan sebagian besar anak muda yang lulus lebih memilih langsung bekerja ketimbang melanjutkan kuliah sebuah pilihan yang lebih ditentukan oleh kebutuhan ekonomi daripada aspirasi personal.
Ketergantungan terhadap kawasan industri di sekitar Dayeuhkolot dan Leuwigajah membuat arah hidup warga Nanjung terasa telah ditentukan dari awal. Perempuan-perempuan muda belajar menjahit sejak SMP, sementara laki-laki mencari peluang menjadi kuli bangunan atau supir angkutan. Ruang-ruang alternatif untuk tumbuh dan memilih menjadi sempit. Gagasan tentang masa depan dibingkai oleh kebutuhan hari ini: cukup makan, bisa bayar listrik, dan punya motor untuk mobilitas kerja.
Ironisnya, perkembangan fisik wilayah tetap terlihat. Jalan-jalan beton mulai menggantikan tanah merah, dan beberapa minimarket waralaba berdiri menggantikan warung milik warga. Namun kemajuan ini lebih merupakan tampilan permukaan. Di baliknya, warga kecil berjuang menjaga keberlangsungan hidup dari warung-warung kecil di emper rumah atau berjualan gorengan di depan SD negeri. Dalam banyak kasus, mereka kalah saing, tak punya modal maupun akses informasi digital yang memadai.
Akses terhadap pendidikan tinggi dan layanan kesehatan yang berkualitas pun belum merata. Meski Margaasih dekat dari pusat kota, warga Nanjung masih merasa terasing dari keberuntungan urban. Sebuah survei komunitas lokal tahun 2022 mencatat bahwa 3 dari 5 rumah tangga belum memiliki jaminan kesehatan aktif, dan lebih dari separuh anak-anak usia 17–21 tahun tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas.
Determinisme ekonomi di Nanjung tidak datang sebagai keputusan ideologis, melainkan hasil akumulasi keterbatasan. Ini bukan soal malas atau kurang berusaha, tetapi lebih pada sistem yang tak memberikan cukup ruang bagi kemungkinan lain. Struktur sosial menjerat pilihan; jika ayah seorang buruh, besar kemungkinan anaknya akan menjadi buruh pula.
Namun bukan berarti tak ada upaya perlawanan. Di tengah situasi tersebut, beberapa warga muda mencoba memanfaatkan media sosial untuk berdagang daring, menjual keripik, baju bekas, hingga menawarkan jasa ojek lokal berbasis grup WhatsApp. Sekolah-sekolah dasar mulai membuka program ekstrakurikuler digital, meski masih terbatas. Beberapa komunitas literasi dan kajian agama tumbuh di masjid-masjid kecil, menjadi ruang alternatif bagi perenungan dan pengorganisasian diri secara perlahan.
Nanjung, dengan segala kesederhanaannya, bukan sekadar tempat. Ia adalah cermin dari bagaimana realitas ekonomi bisa menjadi takdir sosial, sekaligus ladang kecil bagi benih perlawanan yang tumbuh dalam diam. Dalam ruang yang tertinggal dari pusaran investasi besar dan gempita pembangunan, Nanjung memberi kita pelajaran tentang pentingnya memahami pembangunan tidak sekadar dari angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari sejauh mana sebuah masyarakat dapat benar-benar memilih jalan hidupnya sendiri.
Continue Reading07 Juli 2025
Malam, Pikiran, dan Tukang Kupat yang Terima Lontong
Malam ini aku duduk di tepi dunia
bersama filsafat yang tak pernah menjanjikan apa-apa.
Namanya Nihilisme
dingin, tenang, tak berselera akan makna,
tapi setia duduk menemaniku
tanpa basa-basi harapan.
Kami tak bicara tentang surga
atau cita-cita masa kecil yang ditanamkan buku pelajaran.
Kami bicara tentang lubang
yang ada di tengah dada manusia,
lubang yang kadang diisi Tuhan,
kadang diisi cinta,
dan lebih sering dibiarkan kosong begitu saja.
"Jadi... segalanya sia-sia?" tanyaku.
Nihilisme tertawa kecil,
seperti filsuf tua yang tak butuh jawaban.
"Bukan sia-sia. Hanya… tidak mutlak penting.
Dan dalam ketidakpentingan itulah,
kau bebas."
Kami berdialektika,
tentang absurditas yang terasa lebih jujur
dibanding optimisme yang dipaksakan.
Tentang arti yang lahir justru karena ketiadaan arti.
Tentang bagaimana kehampaan bisa dipeluk,
bukan untuk dikalahkan,
tapi untuk dijadikan tempat duduk paling nyaman malam ini.
"Jadi, harus ke mana aku melangkah?"
"Ke arah manapun. Tapi sadarlah,
tak ada tanah yang benar-benar suci di peta makna."
Ia menyalakan sebatang kata yang basi,
tapi malam tetap mendengarnya dengan khidmat.
Dan di bawah langit yang sudah lama mati,
aku dan nihilisme terus berdialektika.
Kami mungkin tak menemukan kebenaran,
tapi kami tahu satu hal:
Bahwa berpikir adalah bentuk tertinggi dari bertahan,
bahkan ketika hidup tak lagi menawarkan alasan.
Dan di sudut jalan kecil yang kusam,
ada tukang kupat tua yang menempelkan tulisan:
“Menerima Pesanan Lontong.”
Aku tertawa sendiri,
karena betapa hidup ini kadang susah diterka,
seperti tukang kupat yang malah menerima pesanan lontong.
Wkwk.
06 Juli 2025
Contra Quietem: Hidup Bukan untuk Diam
atas nama cinta, anarki, dan keberanian menjadi utuh
Kawan muda,
dunia ini tidak pernah menunggu siapa pun siap.
Ia terus berjalan dalam tenangnya sendiri,
menggulung yang ragu, melibas yang terlambat.
Ia datang membawa kabar baik dan buruk dengan tempo yang sama datarnya.
Dulu, pernah ada yang diterima di Bulaksumur.
Bukan sekadar kampus,
tapi janji tentang hidup yang dijalani dengan tanya,
bukan sekadar diselesaikan.
Tempat di mana ilmu bukan menara gading,
melainkan jalan panjang yang tak selalu lurus.
Tapi arah bisa berubah,
seperti cuaca yang tak menjanjikan musim.
Langkah sempat berpindah ke sebuah kampus di Pasirkaliki—
di tengah kota yang riuh dan penuh papan neon.
Di sana, hidup terasa seperti antrean panjang
menuju sesuatu yang tidak sepenuhnya diyakini.
Ramai tapi asing.
Tertib tapi jauh dari tenteram.
Lalu sebuah keputusan diambil
untuk minggat.
Melalui pintu kecil bernama SPMB,
menuju kampus di kaki Gunung Manglayang,
di mana kabut turun perlahan
dan pagi tidak pernah terburu-buru.
Di luar kelas, hidup mulai menunjukkan wajah lain.
Dunia aktivisme membuka jalan ke kota-kota baru,
dengan suara-suara yang jarang terdengar.
Jurnalisme kampus mengajari cara mendengar sebelum berkata,
cara bertanya tanpa menghakimi.
Dan di sela-sela itu,
ada pertemanan yang tak diajarkan silabus,
ada tawa yang tumbuh dari kejujuran,
ada malam-malam panjang yang tak dihabiskan demi nilai,
tapi demi memahami mengapa semuanya harus berarti.
Namun bahkan di tengah semangat itu,
kadang datang sepi yang tak bisa dijelaskan.
Karena ternyata,
kita bisa terlihat sibuk mencari,
padahal sedang menjauh dari diri sendiri.
Di titik itu, seseorang mulai belajar:
bahwa hidup bukan lomba.
Bahwa nilai tinggi tidak menjamin arah yang tepat.
Bahwa kadang, kita perlu tersesat dulu
untuk benar-benar mengerti arah pulang.
Dan pelan-pelan,
bahasa ditemukan
untuk menamai luka,
untuk memetakan rasa hilang,
untuk berdamai dengan hal-hal yang tak bisa diubah.
Kawan,
hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Bukan tentang siapa yang paling dipuji.
Tapi tentang siapa yang mampu bertahan
dengan jujur dan utuh,
meski pelan dan sendiri.
Jika suatu hari kau bingung,
jangan buru-buru merasa gagal.
Bingung adalah tanda bahwa kau masih berpikir.
Masih hidup.
Jika marah,
marahlah yang jujur.
Jangan menyamar dalam keteraturan.
Jangan menyuap hati dengan ketenangan palsu.
Dan jika langkahmu nanti tak dimengerti banyak orang,
itu tak apa.
Karena tak semua yang besar itu benar,
dan tak semua yang sunyi itu sesat.
Ketahuilah:
jalan pulang tidak selalu pendek.
Ada yang harus melingkar,
ada yang harus mundur,
ada yang harus duduk dulu
untuk mendengar detak jiwanya sendiri.
Dan jika harus memilih,
jadilah api.
Bukan yang membakar segalanya,
tapi nyala yang tak minta izin untuk hidup.
Yang tahu mengapa ia menyala,
dan tak gentar meski sendirian.
Peluklah jalanmu.
Cintai takdirmu.
Lawan apa pun yang membuatmu mengecil.
Tolak hidup yang mematikan jiwamu demi rapi dan sopan.
Karena pada akhirnya,
hidup hanya berpihak pada mereka yang berani menyalakan diri.
Atas nama cinta dan anarki,
atas nama keberanian untuk menjadi utuh
hidup yang setengah-setengah, bukan pilihan
Continue Reading
03 Juli 2025
Ketika SSD Dipasangkan Dengan Niat, Tapi BIOS Dell Menjawab Dengan Penolakan.
Dell Latitude 3410 Gen 10 datang dengan wajah kalem dan nama yang terdengar profesional. Tapi di balik desain yang seolah akrab dengan dunia kerja, tersembunyi watak keras kepala yang lebih pantas disimpan di museum kebodohan desain modern. Laptop ini—seperti banyak mesin Dell lainnya memasang slot NVMe, dan memasang senyum manis seolah berkata: “Silakan, tingkatkan kemampuan saya.” Tapi begitu kita pasang SSD pihak ketiga yang tidak dicatat dalam silsilah suci Dell, BIOS langsung bungkam. Tidak menolak. Tidak menerima. Hanya diam.
Slot itu seperti pintu palsu di gedung palsu. Dipasang hanya agar terlihat murah hati, tapi tidak pernah benar-benar dimaksudkan untuk dipakai. Kita hidup di zaman ketika laptop murahan merek entah apa saja bisa menerima SSD dengan santai, tapi Dell dengan segala reputasinya memilih bermain drama. BIOS-nya tidak memberikan penjelasan. Tidak menampilkan kesalahan. Hanya menghilangkan drive dari kenyataan. Seolah-olah apa yang tidak disetujui olehnya, tidak pantas ada.
Dan jangan berharap bisa memperbaiki ini dengan logika. Jangan berharap bisa membujuknya dengan command line, jangan harap Hiren’s BootCD akan membantu kalau BIOS sendiri menolak melihat. Karena masalah ini bukan teknis. Ini ideologis. Ini BIOS yang tidak percaya pada pengguna. Ini Dell yang berkata: “Ini tubuhku, tapi bukan untukmu.”
Sementara itu ThinkPad X1 Carbon, datang dengan kesederhanaan yang justru menyelamatkan. SSD NVMe dari Intel, siap tempur. Ingin ganti? Ganti saja. BIOS-nya membaca. Sistemnya menyesuaikan. Tidak ada kode keras. Tidak ada perlakuan seolah-olah pengguna itu anak kecil yang harus dilarang menyentuh tombol merah. ThinkPad tidak memperlakukanmu sebagai ancaman. Ia memperlakukanmu sebagai rekan.
Latitude 3410 adalah laptop yang lahir dengan rencana setengah matang. Diberi harddisk lambat seolah semua orang masih hidup di 2012. Diberi slot NVMe tapi dengan batasan diam-diam seperti kontrak jual beli tanah warisan. Diberi BIOS yang terlalu banyak proteksi sampai akhirnya gagal menjadi alat bantu—karena fungsinya sudah tergantikan oleh paranoia.
Kalau kamu teknisi, kamu tahu sakitnya. Kalau kamu user, kamu akan terlambat menyadarinya biasanya saat sistem gagal boot, saat kamu butuh clone cepat, saat data harus diselamatkan sekarang, dan BIOS Dell tetap dengan wajah batu berkata: “Silakan cari di tempat lain.”
Dell tidak menjual laptop. Dell menjual ilusi kontrol yang akhirnya menusuk penggunanya sendiri.
ThinkPad, sebaliknya, tidak bicara banyak. Tapi ketika kamu benar-benar perlu, ia tidak akan pura-pura mati rasa. Karena ThinkPad tidak perlu drama untuk terlihat berkelas.
Latitude 3410 adalah janji yang dikunci dari dalam. Dan BIOS-nya adalah penjaga yang tidak bisa membedakan antara keamanan dan sabotase.
Kalau kamu memang ingin tahu rasanya dikhianati oleh benda mati, pasang saja SSD NVMe pihak ketiga ke Dell Latitude 3410. Lihat bagaimana BIOS-nya pura-pura buta, lalu kamu mulai meragukan kewarasanmu sendiri. Cek satu per satu—apakah SSD rusak? Apakah Rufus salah format? Apakah Tuhan sedang tidak di pihakmu?
Tidak, bro. Kamu cuma sedang menggunakan laptop yang slot-nya palsu dan BIOS-nya keras kepala.
Kamu beli perangkat dengan harapan, tapi Dell membalasnya dengan batasan. Kamu masuk BIOS dengan harapan, tapi disambut ruangan kosong yang sunyi, seperti hati mantan yang sudah blokir nomor kamu.
Sementara ThinkPad? Dia tidak berjanji banyak. Tapi dia bekerja. Dan dia tidak pernah memintamu tunduk pada merek tertentu. Dia tidak menguji kesetiaanmu dengan trik murahan. Dia cukup membuka pintu, lalu berkata: "Kalau kamu tahu apa yang kamu lakukan, masuklah. Aku percaya."
Dell Latitude 3410 adalah laptop yang ingin terlihat seperti alat profesional, tapi bersikap seperti tukang parkir ilegal.
“Bisa parkir di sini, asal kenal saya.”
Slot-nya ada. BIOS-nya aktif. Tapi itu semua hanya simbol. Yang kamu pegang bukan mesin kerja. Yang kamu pegang adalah struktur kontrol yang disamarkan jadi fitur.
Jadi ya, silakan.
Pakai Dell Latitude, kalau kamu suka hubungan yang penuh syarat, silent treatment, dan cinta yang harus sesuai SOP.
Atau pindahlah.
Ke mesin yang tidak butuh validasi dari pabrik hanya untuk membaca SSD yang sehat.
Karena kadang, bukan kamu yang bodoh.
Cuma BIOS-nya yang tidak siap berkomitmen.




