About Me
- Aulia
- adalah harapan menciptakan sebuah mimpi.adalah mimpi membuat aku hidup.adalah hidup yang telah merangkaikan cerita.adalah cerita tentang aku.
28 Januari 2026
Balada Mahasiswa UIN Bandung 2008
21 Januari 2026
Negara sebagai Event Organizer Paket Lengkap Kemiskinan Struktural
Terima kasih kepada negara yang dengan profesionalisme tinggi berhasil menjadi event organizer penderitaan. Acaranya rutin, skalanya nasional, pesertanya rakyat kecil, sponsornya modal besar. Rundown-nya rapi: pembukaan oleh pidato pejabat, sesi utama berupa kebijakan, penutupnya konferensi pers. Semua berjalan lancar. Tidak ada yang benar-benar dibatalkan hanya nasib rakyat yang ditunda.
Ini bukan kemiskinan sembarangan. Ini kemiskinan struktural: terkurasi, terlembagakan, dan dilegalkan. Negara memastikan ia tidak muncul liar, tapi teratur agar bisa dipantau, dihitung, dan dilaporkan sebagai capaian. Jika kemiskinan adalah acara, maka negara memastikan panggungnya berdiri kokoh.
Negara selalu bilang berpihak pada rakyat kecil. Pertanyaannya: rakyat kecil yang mana? Yang kecil suaranya, kecil daya tawarnya, dan kecil peluang hidupnya. Setiap kebijakan turun, yang pertama kali dikorbankan selalu mereka. Sementara yang besar—modal, korporasi, dan elite—selalu jatuh ke atas. Hukum gravitasi sosial ini tampaknya disusun di ruang rapat ber-AC.
Sejak kecil kami diajari bahwa negara hadir untuk melindungi. Kenyataannya, negara lebih mirip customer service kapital: ramah pada investor, dingin pada warga. Jika rakyat mengeluh, jawabannya “mekanisme pasar”. Jika modal mengeluh, jawabannya insentif pajak. Negara netral, katanya—netral seperti EO yang jelas-jelas memihak sponsor utama.
Katanya ini era pertumbuhan. Tapi entah kenapa yang tumbuh hanya:
-
harga pangan,
-
biaya pendidikan,
-
ongkos hidup,
-
dan rasa putus asa.
Upah? Jangan serakah. Itu nanti mengganggu iklim investasi. Lagipula, lapar bisa dilatih jadi karakter tangguh. Penderitaan, kata mereka, membentuk mental. Aneh saja, mental yang diuji selalu milik mereka yang tak pernah ikut rapat kebijakan.
Kemiskinan lalu dipersonalisasi. Rakyat miskin dianggap kurang literasi, kurang adaptif, kurang inovatif. Padahal mereka hidup di sistem yang sengaja dirancang agar selalu kurang. Tapi menyalahkan sistem berbahaya. Lebih aman menyalahkan korban—lebih murah dan tidak mengganggu sponsor.
Sesekali negara membagikan bantuan. Jumlahnya pas: cukup untuk dokumentasi, kurang untuk kehidupan. Karena tujuan utamanya bukan menghapus kemiskinan, melainkan mengelolanya. Kemiskinan harus tetap ada—kalau tidak, siapa yang akan mengisi grafik keberhasilan? Siapa yang akan jadi latar foto saat peresmian program?
Ketika mahasiswa turun ke jalan, kami disebut tidak tahu realitas. Padahal justru karena terlalu tahu, kami muak. Kami tahu hukum bisa selembut busa jika menyentuh pengusaha, dan sekeras beton jika menyentuh rakyat. Kami tahu aparat lebih sigap menjaga aset ketimbang masa depan. Kami tahu “stabilitas” adalah kata sandi untuk kenyamanan elite.
Yang paling ironis: semua ini disebut demokrasi. Rakyat diberi hak memilih lima tahun sekali, lalu diminta diam selama lima tahun berikutnya. Kalau protes, disebut mengganggu ketertiban. Kalau marah, disebut tidak dewasa. Stabilitas siapa yang dijaga? Tentu bukan stabilitas perut kami.
Jika hari ini kamu miskin, jangan panik. Itu bukan kegagalan pribadi. Itu tanda sistem berjalan sesuai proposal. Kamu hanya berada di posisi yang memang disiapkan: penonton pembangunan, bukan penerima hasilnya. Angka statistik, bukan suara.
Tulisan ini tidak menawarkan solusi instan. Bukan karena kami kehabisan gagasan, tetapi karena masalahnya bukan kekurangan solusi melainkan kelebihan kepentingan yang ingin masalah ini terus berlangsung. Selama negara betah menjadi EO, dan kapital betah jadi sponsor utama, sarkasme adalah bahasa paling jujur yang tersisa.
Maka biarlah tulisan ini menjadi catatan dari mereka yang tak kebagian panggung, tapi kebagian beban. Kami menulis bukan untuk disukai, tapi untuk mengganggu. Bukan untuk rukun, tapi untuk jujur.
Karena di negeri yang menormalisasi ketimpangan, amarah adalah bentuk cinta paling waras. Dan di sistem yang memaksa kita menerima nasib, pemberontakan adalah cara paling jujur mencintai hidup.
Dengan cinta, amarah, dan anarki.
Fatum brutum, amor fati.
Sakir Proletariant
Continue Reading16 Januari 2026
Dasamuka Mengatur Meja, Kumbakarna Diajari Bersyukur Menafsir MBG dengan Lensa Sosiologi
06 Januari 2026
Bersyukur di Jalan Paruh Waktu
Dalam kamus hidup, tidak semua kata dapat kita pilih. Ada istilah yang tiba-tiba melekat pada diri kitastatus, peran, kondisi tanpa pernah kita minta. Paruh waktu adalah salah satu kata itu: sebuah keadaan faktual yang menempatkan manusia pada ruang antara, tidak sepenuhnya selesai, tidak pula sepenuhnya kosong.
Filsafat eksistensialis menyebut keadaan ini sebagai situasi. Bukan sesuatu yang bisa segera diubah, tetapi sesuatu yang harus dihadapi. Manusia tidak selalu berdaulat atas kondisi, namun selalu berdaulat atas sikap. Di sinilah syukur menemukan maknanya bukan sebagai penyangkalan, melainkan sebagai cara berdiri dengan utuh di hadapan kenyataan.
Mengabdi, dalam pengertian ini, bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan keputusan sadar untuk tetap mengada. Ketika seseorang memilih bekerja dengan sungguh-sungguh di tengah keterbatasan, ia sedang menyatakan keberadaannya: bahwa hidup tetap layak dijalani dengan tanggung jawab, meski jalannya belum sepenuhnya terang.
Orang-orang yang lebih sepuh memahami hal ini tanpa perlu menyebutnya filsafat. Mereka hidup dalam laku, bukan dalam definisi. Dari mereka kita belajar bahwa syukur tidak selalu bersuara keras. Ia hadir dalam kerja yang dijaga, dalam niat yang dirawat, dan dalam keluhan yang dipilih untuk ditahan. Syukur adalah kesadaran bahwa hidup masih memberi ruang untuk bermanfaat.
Paruh waktu mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan seluruh makna hidup pada kepastian. Harapan tidak selalu hadir sebagai hasil yang segera, tetapi sebagai keteguhan menjalani hari dengan jujur. Dalam ruang antara inilah, manusia belajar menerima tanpa kehilangan martabat.
Kesabaran pun menjelma sebagai bentuk syukur yang paling sunyi. Tetap hadir, tetap bekerja, tetap berbuat baik meski tidak semua usaha langsung terlihat. Manusia tidak ditentukan oleh apa yang ia tunggu, melainkan oleh bagaimana ia menjalani waktu menunggu itu.
Pada akhirnya, bersyukur di jalan paruh waktu berarti menerima hidup sebagaimana ia datang, tanpa berhenti berharap, tanpa berhenti bertumbuh. Karena makna tidak selalu lahir dari kepastian, melainkan dari kesediaan untuk tetap setia pada nilai, di tengah keadaan yang belum selesai.
fatum brutum
amor fati
sic vos non vobis
19 Desember 2025
Rancaekek Kencana dan Ingatan yang Sengaja Dipendekkan
06 Desember 2025
Ekologi yang Dikhianati, dan Rancaekek yang Dipaksa Menanggungnya
12 November 2025
Ketika Surga Menjadi Sunyi: Membaca Just Like Heaven dan Fatherless di Hari Ayah
Hari Ayah datang seperti bayangan yang lembut namun berat. Di sebagian rumah, tawa dan ucapan terucap ringan; di sebagian lainnya, hanya ada keheningan yang menua bersama ingatan. Tak semua rindu punya alamat, dan tak semua kasih sempat diucapkan. Musik menjadi bahasa paling jujur untuk hal-hal yang gagal kita katakan. Salah satunya melalui lagu Just Like Heaven dari The Cure — sebuah karya yang berbicara tentang cinta, kehilangan, dan kerinduan yang tetap hidup bahkan setelah kehadiran menghilang.
Dalam Just Like Heaven, Robert Smith menulis seolah sedang merayakan cinta. Ritmenya ringan, melodinya berlari, namun di dalamnya bersembunyi getir yang dalam. Surga yang ia sebut bukan tempat abadi, melainkan momen fana yang terasa sempurna sebelum akhirnya menguap. Lirik “I found myself alone above a raging sea” menyingkap paradoks yang menyentuh: di balik kebahagiaan selalu ada potensi kehilangan. Lagu ini, seperti kenangan akan pelukan ayah yang dulu hangat namun kini hanya berupa gema, menjadi simbol betapa segala yang kita sebut surga mungkin hanya sementara. Namun justru di situlah keindahannya bahwa kasih tak harus abadi untuk bisa berarti.
Hari Ayah, dengan segala simbolnya, bukan hanya perayaan atas figur, tapi juga refleksi atas luka dan warisan emosional yang kita bawa dari mereka. Sebab dalam setiap anak yang tumbuh, selalu ada bayangan ayah — entah hadir atau absen, nyata atau hanya berupa nama yang kita bisikkan dalam doa. Cinta seorang ayah sering kali tidak diucapkan dalam kata, melainkan dikerjakan dalam diam: di jam-jam pagi yang dingin, di langkah yang terburu, di kerja yang tak sempat menyaksikan tumbuh anaknya.
Maka bagi mereka yang ayahnya tak sempat mengantar ke sekolah, ingatlah:
“Tak semua ayah sempat mengantar anaknya ke sekolah, tapi setiap langkah anak itu tetap membawa namanya.”
Continue Reading11 November 2025
Disiplin
Disiplin itu dipromosikan seperti skincare ajaib yang katanya bisa memperbaiki hidup cuma dengan dipakai rutin. Padahal yang jual omongan itu hidupnya sendiri masih berantakan, target meleset, manajemen waktu amburadul, tapi tetap sok penceramah tentang komitmen dan produktivitas.
Orang-orang mengangkat disiplin setinggi langit, seakan itu malaikat penjaga karier. Padahal aslinya ya cuma suara alarm yang berisiknya minta ditampar. Dia datang pagi-pagi buta, bergaya seperti konsultan manajemen, padahal kalau disiplin itu manusia, dia pasti tipe rekan kerja yang kontribusinya minim tapi paling rajin ngasih feedback.
Yang lucu, yang paling getol ngomong soal disiplin biasanya justru yang moral deadline-nya paling goyah. Begitu telat kirim laporan, mereka nyalain rapat, jaringan, cuaca, dan sejarah bangsa, pokoknya semua kecuali diri sendiri. Produktif sekali dalam urusan alasan.
Disiplin itu juga tidak pernah sensitif terhadap kondisi manusia. Kamu capek, pusing, patah hati, atau ingin hilang dari peradaban, dia tidak peduli. Dia cuma berdiri dengan wajah datar dan bilang kerja terus, gerak terus, evaluasi terus. Andai dia makhluk hidup, sudah lama dia dilaporkan ke HR karena toxic.
Tetap saja, meski cara kerjanya menyebalkan, kita butuh dia. Tanpa disiplin, hidup bakal mirip data penting yang tidak pernah di backup: rusak sedikit langsung hancur total. Kita tidak perlu menyukainya, cukup tunduk sedikit agar hidup tidak berubah jadi tumpukan keputusan keliru.
Akhirnya disiplin itu bukan mentor bijaksana. Dia satpam masa depan yang cerewet dan sinis. Tapi dia satu-satunya yang berani ngomong terang-terangan bahwa kalau kita terus menggampangkan hidup, masa depan cuma akan jadi laporan kerusakan, bukan rencana yang bisa dibanggakan.
10 November 2025
Laut yang Menghubungkan Kita: Mochtar Kusumaatmadja dan Wawasan Nusantara di Hati Anak 90-an
Setiap tanggal 10 November, saat bangsa ini memperingati Hari Pahlawan Nasional, kita diajak untuk mengenang bukan hanya mereka yang berjuang dengan bambu runcing, tapi juga mereka yang menyalakan obor lewat pikiran. Mochtar Kusumaatmadja adalah salah satunya. Ia bukan pejuang di medan perang, tapi pahlawan di meja diplomasi memperjuangkan agar dunia mengakui bahwa Indonesia adalah satu kesatuan, bukan sekumpulan pulau yang kebetulan berdekatan.
Dalam pelajaran IPS, istilah Wawasan Nusantara sering terdengar seperti konsep berat. Tapi kalau dipikir lagi, itu sebenarnya semacam puisi sosial tentang persatuan. Mochtar mengajarkan bahwa laut yang tampak memisahkan kita sesungguhnya adalah tangan yang merangkul semua perbedaan. Bahwa bangsa ini, dari Sabang sampai Merauke, dari ujung pesisir sampai kota-kota yang sibuk, adalah satu keluarga besar yang hidup di antara ombak dan angin tropis.
Kini, ketika kita hidup di zaman serba daring di mana jarak terasa dekat tapi hati kadang terasa jauh gagasan Mochtar terasa makin relevan. Wawasan Nusantara bukan cuma peta politik, tapi juga peta perasaan: mengingatkan kita untuk tidak lupa bahwa Indonesia dibangun oleh kesadaran saling terhubung. Sama seperti dulu laut yang menyatukan para pelaut dan pedagang, sekarang jaringan digital seharusnya menyatukan kita, bukan memisahkan.
08 November 2025
Ledakan Makna di SMA 72: Kisah Luka, Tanda, dan Identitas yang Tak Diberi Ruang
Ledakan yang mengguncang SMA 72 Jakarta pada awal November bukan hanya suara benda yang meledak; ia adalah suara dari sesuatu yang jauh lebih dalam suara dari tanda-tanda yang selama ini diabaikan. Di masjid sekolah, ruang yang semestinya menjadi tempat teduh, tiba-tiba pecah oleh dentuman kekerasan. Dan di balik dentuman itu, kita menemukan sebuah artefak: senjata rakitan dengan ukiran “Welcome to Hell”, dihiasi nama-nama pelaku kekerasan masjid dari belahan dunia lain Tarrant, Traini, Bissonnette sosok-sosok yang tidak seharusnya hadir di ruang belajar anak-anak.
Polisi menyebut kemungkinan bahwa pelakunya adalah seorang siswa yang “sering dibully”, seorang remaja yang keberadaannya berjalan di garis pinggir sosial sekolah. Dan di sinilah narasi itu berubah: ini bukan sekadar tindakan kriminal, bukan sekadar “anak yang iseng dengan senjata”, melainkan potret utuh dari bagaimana simbol-simbol ekstrem menjadi bahasa baru bagi mereka yang kehabisan cara untuk menyampaikan diri.
Bullying tidak pernah hanya menjadi candaan antarteman atau kenakalan kecil. Dalam semiotika sosial, bullying adalah sistem tanda bahasa yang mengatur siapa yang layak didengar dan siapa yang harus diam. Setiap ejekan, setiap tatapan meremehkan, setiap tepukan palsu di punggung, setiap penyingkiran dari kelompok tugas, semuanya menyampaikan pesan yang sama: kamu tidak dihitung di sini. Pesan itu menumpuk setiap hari, dan semakin menumpuk, semakin keras pula ia bergema di dalam dada anak yang menerimanya.
Dan ketika dunia nyata menutup pintu, dunia simbol membuka jendelanya. Anak yang terpinggirkan akan mencari makna di tempat-tempat yang tidak dibayangkan orang dewasa: di video game, di forum gelap, di meme yang menertawakan kekerasan, di estetika hitam-merah yang tampil seperti grafis pemberontakan. Nama-nama teroris global itu bukan dipilih karena ideologinya dipahami, tetapi karena mereka tampil sebagai ikon ketangguhan semu tokoh yang dianggap “berani melawan”, meski yang dilawannya adalah kemanusiaan itu sendiri.
Masjid sekolah yang menjadi lokasi ledakan itu, dalam analisis semiotik, bukan sekadar tempat kejadian. Ia adalah simbol yang dirusak. Ruang tenang tempat anak-anak bernaung seakan dipilih sebagai panggung untuk menunjukkan betapa jauh remaja itu telah berjalan dari batas aman. Ketika ruang suci ditembus oleh tanda-tanda kegelapan, kita bukan hanya melihat tindakan, tetapi pesan: bahwa rasa aman tidak lagi merasuk ke hati seseorang yang setiap hari diremehkan.
Narasi tentang siswa pendiam yang dibully ini tidak boleh dibaca sebagai “faktor kecil”. Ini adalah inti persoalan. Bullying menciptakan jurang, dan di ujung jurang itu, simbol-simbol ekstrem menunggu dengan tangan terbuka. Budaya pop menyediakan visual, warna, gaya, meme, dan kata-kata yang bisa dipungut siapa saja. Sementara sekolah, kadang tanpa sadar, menyediakan sunyi yang cukup luas bagi seorang remaja untuk merasa tidak terlihat oleh siapa pun.
Ketika dunia digital menyediakan ikon yang tampak kuat, dan dunia nyata menyediakan tatapan yang meremehkan, pilihan bagi remaja tertentu tampak seperti garis yang tak terhindarkan. Ia meminjam bahasa kekerasan untuk mengganti bahasa dirinya yang hilang. Ia mengambil nama-nama yang tidak pernah ia temui untuk melawan nama-nama yang setiap hari merundungnya. Ia menulis “Welcome to Hell” bukan karena ia ingin menghancurkan dunia, tetapi karena dunia telah lama menulis pesan serupa di punggungnya melalui perlakuan teman sebaya.
Tragedi ini mengajarkan kita bahwa tanda-tanda kecil selalu muncul lebih dulu sebelum tindakan besar pecah. Doodle kecil di buku, tulisan aneh di dinding, wallpaper ponsel bergambar tokoh gelap, perubahan sikap, keheningan yang semakin dalam semuanya adalah teks yang dapat dibaca jika kita mau memperhatikan. Sekolah sering sibuk dengan absensi, nilai, dan rapat, tetapi lupa bahwa kehidupan batin anak-anak jauh lebih ramai daripada daftar kehadiran.
Dalam kacamata semiotik, ledakan di SMA 72 bukan hanya ledakan fisik. Ia adalah letusan simbol-simbol yang tak pernah ditafsirkan. Ia adalah jeritan dari bahasa yang dibentuk oleh bullying, oleh rasa sunyi, oleh estetika ekstrem, oleh dunia digital yang menawarkan pelarian sekaligus jebakan. Ia adalah peringatan bahwa kekerasan tidak lahir tiba-tiba; ia selalu diawali tanda.
Dan tanda itu sering muncul di wajah anak yang kita kira baik-baik saja.
Peristiwa ini akhirnya mengingatkan kita bahwa tugas sekolah bukan hanya memastikan kurikulum berjalan, tetapi memastikan makna hidup seorang anak tetap utuh. Bullying bukan persoalan disiplin semata; ia adalah persoalan identitas. Dan ketika identitas retak, simbol-simbol gelap akan mengambil alih pekerjaan kita.
Ledakan di SMA 72 adalah tragedi. Tetapi ia juga undangan undangan untuk membaca lebih peka, mendengar lebih dalam, dan tidak pernah lagi mengabaikan bahasa luka yang selama ini kita anggap sebagai kenakalan kecil.


