About Me
- Aulia
- adalah harapan menciptakan sebuah mimpi.adalah mimpi membuat aku hidup.adalah hidup yang telah merangkaikan cerita.adalah cerita tentang aku.
05 April 2026
31 Maret 2026
Anuraga
Rindu ini tidak lagi pandai bersembunyi,
ia menetes pelan di sela-sela malam,
seperti atap bocor yang tak pernah sempat kau perbaiki
diam, tapi pasti membasahi hati.
Namamu masih kusebut
dengan suara yang hampir hilang,
seperti doa seorang ibu
yang tahu anaknya mungkin tak akan pulang.
Aku menyimpanmu
di tempat paling sunyi dalam diri,
di sana tak ada siapa-siapa
kecuali kenangan yang terus belajar hidup sendiri.
Kadang aku ingin lupa,
tapi ingatan lebih keras kepala dari aku,
ia memutar ulang tawamu,
seolah waktu tidak pernah benar-benar berlalu.
Rindu ini sederhana,
tidak meminta apa-apa lagi,
hanya ingin kau tahu
aku pernah mencintaimu
sebegitu sunyi
sampai dunia pun tak menyadarinya.
Dan jika suatu hari kau kembali,
mungkin aku sudah tak ada di tempat yang sama
tapi percayalah,
sebagian dari aku akan tetap menunggu,
di waktu yang tidak pernah selesai,
memanggil namamu
tanpa suara.
18 Maret 2026
Validasi yang Selesai, Keadilan yang Tertunda (Catatan Filsafat Sosiologis atas Arogansi Pusat dan Lupa Diri pada Otonomi Daerah)
Di Meja operator sekolah, validasi adalah kerja yang selesai. Data dirapikan, sinkronisasi dijaga, dan setiap perubahan dicatat dengan ketelitian yang nyaris asketis. Namun, pada layar yang sama dan dalam bulan yang sama, hasilnya terbelah: ada yang cair, ada yang tidak. Pada titik ini, persoalan tidak lagi dapat direduksi menjadi kesalahan teknis. Kita sedang berhadapan dengan suatu ironi struktural: kerja yang rasional diputus oleh sistem yang tidak sepenuhnya rasional.
Birokrasi digital hadir dengan janji kepastian. Ia menawarkan kecepatan, objektivitas, dan keterukuran. Akan tetapi, janji tersebut kehilangan pijakan ketika dua data yang sama menghasilkan konsekuensi yang berbeda. Ketika validasi tidak lagi identik dengan hasil, maka rasionalitas birokrasi berubah menjadi semacam kepercayaan dipertahankan, tetapi tidak selalu terbukti.
Lebih jauh, kondisi ini memperlihatkan satu wajah lama yang belum sepenuhnya hilang, yakni arogansi pusat. Dalam kerangka otonomi daerah, distribusi kewenangan seharusnya berjalan secara proporsional. Daerah diberi ruang untuk memahami konteksnya sendiri, mengelola data, dan memastikan validitasnya. Namun, dalam praktiknya, daerah bekerja, sementara pusat menentukan. Operator dan admin daerah menuntaskan validasi, tetapi keputusan akhir tetap berada pada mekanisme pusat yang jauh dari jangkauan klarifikasi langsung.
Situasi ini bukan sekadar persoalan koordinasi, melainkan bentuk sentralisasi yang terselubung dalam teknologi. Pusat memegang kendali penuh atas hasil akhir, sementara daerah memikul tanggung jawab operasional. Ketika terjadi ketidaksesuaian—data telah valid, tetapi pencairan tidak terjadi—daerah tidak memiliki otoritas untuk memperbaiki, melainkan hanya kewajiban untuk menjelaskan. Inilah beban tanpa kuasa.
Secara sosiologis, kondisi ini mencerminkan pola klasik dalam birokrasi: kekuasaan terpusat, tanggung jawab tersebar. Keputusan diambil pada tingkat yang jauh dari realitas lapangan, sementara konsekuensi langsung dirasakan oleh mereka yang berada di garis depan pelayanan. Ketimpangan ini menciptakan jarak antara kerja dan hasil, antara usaha dan pengakuan.
Lebih ironis lagi, sistem yang seharusnya menghadirkan kepastian justru memproduksi ketidakpastian yang berulang. Validasi tidak bersifat final, melainkan sementara. Rekomendasi untuk melakukan reset berkala menjadi semacam ritual administratif, seolah-olah kebenaran data harus terus diverifikasi bukan karena kesalahan, melainkan karena sistem belum stabil. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi yang dijanjikan oleh digitalisasi belum sepenuhnya terwujud; yang terjadi justru reproduksi pola lama dalam bentuk baru.
Dalam situasi seperti ini, keadilan administratif bergeser menjadi sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi. Pencairan tidak selalu ditentukan oleh ketepatan kerja, melainkan oleh posisi dalam siklus proses yang tidak transparan. Dengan kata lain, rasionalitas birokrasi bergeser menuju probabilitas sistemik.
Namun demikian, manusia tidak sepenuhnya kehilangan daya. Di dalam ruang-ruang informal, seperti percakapan antaroperator, muncul bentuk solidaritas yang khas. Berbagi pengalaman, strategi, dan bahkan keluhan menjadi mekanisme adaptasi terhadap sistem yang tidak sepenuhnya responsif. Humor, dalam konteks ini, bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk kritik yang disampaikan secara aman dan kolektif.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi bersifat teknis, melainkan normatif: jika validasi telah dilakukan dengan benar, mengapa hasilnya tidak konsisten? Jika sistem telah terdigitalisasi, mengapa keputusannya masih terasa arbitrer? Dan jika daerah telah menjalankan fungsinya secara maksimal, mengapa pusat masih mempertahankan kontrol yang demikian dominan?
Jawaban yang paling jujur mungkin tidak sederhana. Teknologi, dalam hal ini, tidak serta-merta mendistribusikan kepercayaan. Ia justru dapat menjadi alat untuk memperkuat kontrol apabila tidak disertai dengan transparansi dan akuntabilitas yang memadai. Dengan demikian, persoalan yang kita hadapi bukan semata-mata persoalan teknis, melainkan persoalan desain kelembagaan.
Pada akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan yang tidak mudah dihindari: validasi dapat diselesaikan oleh manusia, tetapi keadilan tidak selalu dihasilkan oleh sistem. Selama hubungan antara keduanya belum dipulihkan selama pusat belum memandang daerah sebagai mitra yang setara, bukan sekadar pelaksana maka ketimpangan ini akan terus berulang.
Setiap bulan akan selalu menghadirkan cerita yang serupa: kerja yang telah tuntas, data yang telah benar, tetapi hasil yang tetap bergantung pada mekanisme yang jauh dari jangkauan mereka yang paling memahami kenyataan. Dalam kondisi demikian, yang dibutuhkan bukan sekadar perbaikan teknis, melainkan keberanian untuk meninjau ulang cara kita memaknai kekuasaan, kepercayaan, dan keadilan dalam birokrasi digital.
Continue Reading06 Maret 2026
Menunggu Server Bangun: Catatan Operator di Negeri Validasi
Setiap menjelang pencairan tunjangan profesi, ada satu halaman yang tiba-tiba berubah menjadi tempat ziarah administratif para guru: Info GTK. Di halaman itu, nasib seorang guru sering kali diringkas hanya dalam satu kata: valid atau belum valid.
Kata yang sederhana, tetapi cukup untuk membuat grup WhatsApp sekolah mendadak ramai.
Di balik layar sebenarnya ada sistem lain yang bekerja diam-diam: Dapodik. Dari sinilah semuanya bermula. Operator sekolah memasukkan data jam mengajar, rombongan belajar, penugasan, hingga berbagai detail administratif yang sering kali tidak pernah terlihat oleh publik.
Setelah itu data disinkronkan ke server pusat. Di atas kertas, alurnya tampak rapi: input data, sinkronisasi, sistem memverifikasi, selesai. Namun, seperti banyak hal dalam birokrasi digital, kenyataan jarang sesederhana bagan alur.
Hubungan antara Dapodik dan Info GTK tidak seperti percakapan langsung. Ia lebih mirip surat yang dikirim lewat pos lama. Data dikirim dari sekolah, lalu menunggu ditarik oleh sistem pusat secara berkala. Kadang beberapa hari. Kadang lebih lama ketika server sedang sibuk oleh jutaan data dari seluruh negeri.
Di sinilah jarak antara kerja manusia dan ritme mesin mulai terasa.
Operator sudah memperbaiki data, sinkronisasi sudah dilakukan, tetapi status di Info GTK belum juga berubah. Guru membuka halaman itu berkali-kali, berharap warna merah berubah menjadi hijau. Sementara operator hanya bisa mengulang kalimat yang sudah terlalu sering diucapkan: “Datanya sudah benar. Tinggal menunggu penarikan sistem.”
Dalam praktiknya, validasi memang tidak terjadi setiap saat. Ia berjalan dalam tahap-tahap tertentu. Perubahan data yang dilakukan setelah siklus validasi terakhir sering kali harus menunggu giliran berikutnya agar terbaca oleh sistem.
Akibatnya, pekerjaan operator sering berubah menjadi semacam kerja detektif administratif.
Data dibuka lagi. Jam mengajar dihitung ulang. Rombongan belajar diperiksa satu per satu. Riwayat penugasan guru ditelusuri kembali seperti membaca ulang catatan lama yang sebenarnya tidak pernah berubah.
Kadang masalahnya sangat kecil: satu jam pelajaran yang tidak terbaca sistem, rombongan belajar yang belum tertarik sempurna, atau detail administratif yang bagi manusia terlihat sepele, tetapi cukup bagi sistem untuk menahan validasi.
Di fase inilah operator harus sabar mencari satu-dua detail kecil yang membuat sistem enggan memvalidasi data.
Belum lagi ketika siklus validasi bertemu dengan berbagai tarikan data berkala dari pusat. Validasi bulanan berjalan bersamaan dengan proses lain: pembacaan NIP paruh waktu, verifikasi beban kerja, hingga proses administrasi tunjangan profesi bagi GTT dan GTY.
Ketika semua proses itu berjalan bersamaan, sistem sering terasa melambat. Bukan berhenti, melainkan bergerak pelan seperti kendaraan yang masuk ke jalan sempit.
Di luar ruang operator, muncul fenomena yang hampir selalu hadir setiap periode pencairan: penularan bulanan.
Begitu satu guru membuka Info GTK dan melihat statusnya belum valid, percakapan segera menyebar di grup WhatsApp.
Dalam hitungan jam, kegelisahan administratif itu menyebar dari satu orang ke orang lain, bahkan lebih cepat daripada sinkronisasi data itu sendiri.
Operator akhirnya menjadi titik singgah dari semua kecemasan itu.
Ironisnya, sistem digital pun tetaplah sistem yang kadang memiliki hari buruk. Halaman Info GTK bisa tiba-tiba sulit diakses. Data muncul tidak lengkap. Atau status berubah tanpa alasan yang mudah dipahami.
Dalam percakapan sehari-hari para operator, kondisi seperti ini biasanya dijelaskan dengan satu kalimat pendek yang sangat familiar: “Sepertinya sistemnya sedang bermasalah.”
Di ruang operator sekolah, sering terlihat ironi kecil birokrasi modern. Negara telah membangun sistem pendidikan berbasis data yang sangat terpusat dan modern. Semua serba digital, serba daring, serba terintegrasi.
Namun, pada level sekolah, penyelesaiannya kadang tetap sederhana: periksa lagi data, perbaiki sedikit, sinkronkan ulang, lalu menunggu.
Operator akhirnya belajar satu hal yang tidak tertulis di buku panduan mana pun: pekerjaan ini bukan hanya memasukkan data. Ia juga pekerjaan menjaga kesabaran kolektif.
Menjelaskan bahwa validasi membutuhkan waktu. Meyakinkan bahwa data sudah benar. Dan kadang dengan sedikit humor mengakui bahwa server pusat pun tampaknya memiliki ritmenya sendiri.
Sampai akhirnya suatu pagi, kata yang ditunggu itu muncul di layar Info GTK: valid.
Grup WhatsApp sekolah mendadak ramai. Operator kembali sepi dari pertanyaan.
Sampai beberapa bulan kemudian, ketika musim validasi datang lagi dan seluruh sekolah kembali melakukan ritual yang sama: membuka halaman Info GTK, menatap layar, dan menunggu server bangun.
Continue Reading27 Februari 2026
Makan Bergizi Gratis, Ledakan Demografi, dan Potensi Pendapatan Asli Daerah
Kita ini bangsa yang kalau dengar kata “gratis” langsung refleks berdiri tegak. Apalagi kalau ditambah embel-embel “bergizi”. Rasanya seperti kombinasi promo minimarket dan janji kampanye: menggoda, menenangkan, sekaligus bikin penasaran.
Makan bergizi gratis terdengar seperti surga kecil di jam istirahat sekolah. Anak-anak kenyang, orang tua lega, negara terlihat seperti ibu kos yang tiba-tiba baik hati. Tapi sebagai bangsa yang sudah kenyang pengalaman, kita tahu: tidak ada yang benar-benar gratis. Yang ada cuma metode pembayarannya dipindah ke belakang layar, lewat APBN dan APBD yang bekerja lembur.
Nah, di sinilah mulai menarik.
Kita sedang menghadapi ledakan demografi. Anak muda akan membanjir ke usia produktif. Kalau ini film laga, ini adegan slow motion ketika ribuan pasukan siap turun ke medan tempur bernama pasar kerja. Pertanyaannya: mereka datang dengan tenaga prima atau cuma modal percaya diri dan akun LinkedIn?
Secara teori, makan bergizi gratis itu fondasi biologis. Logikanya sederhana: anak sehat, belajar lebih fokus, tumbuh optimal, jadi tenaga kerja berkualitas. Tidak ada yang salah. Bahkan masuk akal.
Tapi hidup tidak pernah sesederhana buku panduan.
Istilah “bergizi” itu lentur. Seberapa bergizi? Apakah mengikuti standar ilmiah ketat, atau standar “yang penting ada lauknya”? Kita ini kreatif. Nasi plus mi instan saja bisa disebut menu kombo. Jangan-jangan nanti yang penting ada karbo, ada protein, selesai. Anak kenyang, laporan jalan, foto distribusi naik ke media sosial dengan caption penuh harapan.
Lalu kata “gratis”. Gratis bagi siswa, iya. Tapi bagi anggaran? Ini proyek logistik raksasa. Bahan pangan, distribusi, dapur umum, tenaga kerja, pengawasan. Itu semua berputar dalam sistem ekonomi.
Dan di titik ini, pemerintah daerah mulai menyeduh kopi lebih serius.
Sejak era desentralisasi pasca-Soeharto, daerah tidak lagi sekadar menunggu jatah. Mereka dituntut kreatif. Ukurannya jelas: Pendapatan Asli Daerah. PAD itu semacam rapor kemandirian. Semakin tebal, semakin percaya diri kepala daerahnya.
Program makan bergizi gratis—yang didorong jadi agenda besar oleh Prabowo Subiantobisa jadi tambang emas kalau dikelola cerdik. Bayangkan kalau bahan pangan diserap dari petani lokal. Peternak ayam kebagian kontrak. UMKM dapur hidup. BUMD ikut main di distribusi. Uang muter di daerah sendiri. Pajak dan retribusi ikut terkumpul. PAD naik pelan tapi pasti.
Ini yang saya sebut jalan ninja fiskal. Tidak perlu menaikkan pajak secara brutal. Cukup pastikan uang dari program sosial tidak kabur ke luar daerah.
Masalahnya, jalan ninja itu tipis. Sedikit saja salah langkah, berubah jadi jalan pintas.
Kalau pengadaan hanya dikuasai pemain lama. Kalau kualitas makanan diturunkan demi efisiensi. Kalau “bergizi” berubah jadi formalitas administratif. Maka yang gemuk bukan anak-anak, tapi laporan serapan anggaran.
Ledakan demografi itu bukan cuma soal jumlah manusia. Itu soal ekspektasi. Generasi muda hari ini tidak cuma ingin kenyang. Mereka ingin peluang. Mereka ingin mobilitas sosial. Mereka ingin masa depan yang tidak cuma dijanjikan di spanduk.
Kalau kita serius, maka makan bergizi gratis harus jadi bagian dari desain besar: gizi kuat, pendidikan waras, industri tumbuh, lapangan kerja nyata. Jangan sampai kita sibuk memastikan anak-anak kenyang, tapi lupa memastikan mereka punya tempat bekerja ketika dewasa.
Karena bayangkan skenario terburuknya: generasi sehat secara fisik, tapi menganggur secara struktural. Itu bukan bonus demografi. Itu antrean panjang dengan kadar hemoglobin bagus.
Kita boleh optimis. Bahkan perlu. Tapi optimisme tanpa skeptisisme itu seperti makan tanpa cek tanggal kedaluwarsa. Terlihat baik-baik saja, sampai perut mulai protes.
Jadi, makan bergizi gratis bisa jadi investasi masa depan sekaligus potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Bisa jadi fondasi menyambut ledakan demografi. Tapi hanya kalau standar gizinya jelas, tata kelolanya ketat, dan orientasinya tidak melulu pada serapan anggaran.
Kalau tidak, ya kita cuma akan jadi bangsa yang bangga dengan program besar, angka PAD naik sedikit, dan generasi muda yang tetap bertanya: “Setelah kenyang, lalu apa?”
Continue Reading
12 Februari 2026
Delusi Boomers dan Mitos Etos Lama di Atas Fondasi Kapitalisme yang Sudah Retak
Istilah delusi boomers mungkin lahir dari ruang-ruang komentar media sosial, dari nada bercanda yang separuh kesal. Tapi di balik kelucuannya, ada kegelisahan yang tidak main-main. Ia muncul dari generasi yang merasa ditagih standar keberhasilan lama, sementara panggung sosial-ekonominya sudah diganti total. Yang disebut “delusi” itu sesungguhnya bukan soal gangguan persepsi, melainkan benturan antara ingatan pembangunan dan realitas krisis kapitalisme hari ini.
Generasi baby boomers tumbuh dalam suasana yang setidaknya secara relatif menawarkan janji stabilitas. Negara hadir cukup kuat, sektor formal berkembang, harga tanah belum menjadi ladang spekulasi masif, dan pendidikan tinggi belum sepenuhnya berubah menjadi komoditas mahal. Ada keyakinan yang terasa masuk akal: bekerja keras, bertahan di satu pekerjaan, menabung, lalu pelan-pelan naik kelas. Mobilitas sosial bukan dongeng; ia punya jalur yang terlihat.
Masalahnya, kapitalisme tidak pernah diam. Ia bergerak, mengubah bentuknya, dan seringkali meninggalkan mereka yang tidak menyadari pergeseran itu. Dari industri manufaktur yang relatif stabil, kita masuk ke ekonomi jasa, lalu ke kapitalisme platform. Kerja tetap berubah menjadi kontrak. Kontrak berubah menjadi proyek. Proyek berubah menjadi gig. Risiko yang dulu ditanggung negara dan perusahaan, kini dipindahkan ke pundak individu. Jaminan sosial menipis, biaya hidup melonjak, sementara upah riil berjalan di tempat.
Namun narasi lama tetap dipertahankan: kalau gagal, berarti kurang giat. Kalau belum punya rumah, berarti kurang hemat. Seolah-olah struktur ekonomi tidak pernah berubah. Seolah-olah harga properti yang melambung hanyalah soal manajemen keuangan pribadi. Di sinilah kritik generasi muda menemukan nadanya. Mereka tidak sekadar menolak nasihat; mereka menolak penyederhanaan.
Dalam kacamata ekonomi-politik, yang bekerja di sini adalah mitos meritokrasi. Sistem yang timpang membutuhkan cerita bahwa ia tetap adil. Kerja keras dijadikan mantra universal agar ketimpangan tampak sebagai akibat perbedaan usaha, bukan distribusi kekuasaan. Padahal akumulasi kapital hari ini semakin terkonsentrasi. Tanah, aset, dan akses modal dikuasai oleh segelintir elite, sementara mayoritas bergulat dengan cicilan, kontrak jangka pendek, dan ketidakpastian masa depan.
Ironisnya, sebagian boomers sendiri pernah menikmati kebijakan yang lebih berpihak pada publik: subsidi, harga tanah yang belum sepenuhnya dikapitalisasi, serta ekspansi lapangan kerja formal. Tetapi memori kolektif itu sering dibingkai sebagai kemenangan personal semata. Di situlah terjadi semacam amnesia struktural. Keberhasilan dianggap murni buah etos kerja, bukan juga hasil konfigurasi politik-ekonomi yang mendukung.
Istilah delusi boomers memang terdengar kasar. Tapi kemunculannya menandai sesuatu yang lebih dalam: frustrasi kelas pekerja dan kelas menengah muda yang merasa tangga mobilitas sosialnya mulai rapuh. Mereka hidup dalam masyarakat risiko, meminjam istilah Ulrich Beck, di mana kegagalan dipersonalisasi, sementara sumber masalahnya sistemik. Ketika semua risiko ditarik ke ranah individu, kritik terhadap struktur menjadi terdengar seperti keluhan.
Pada akhirnya, konflik ini bukan sekadar soal beda generasi. Ia adalah soal siapa yang diuntungkan oleh fase tertentu kapitalisme dan siapa yang mewarisi krisisnya. Jika kita terus membacanya sebagai perang usia tua melawan muda kita justru melewatkan inti persoalannya: distribusi sumber daya yang semakin timpang dan legitimasi sistem yang dipertahankan lewat bahasa moralitas.
Barangkali yang perlu dikoreksi bukan hanya cara satu generasi memandang generasi lain, tetapi cara kita memahami perubahan struktur yang sedang berlangsung. Tanpa kesadaran itu, kerja keras akan terus dielu-elukan sebagai solusi tunggal, sementara ketimpangan tetap beroperasi dengan tenang. Dan istilah “delusi” akan terus dipakai bukan karena orang tidak rasional, melainkan karena sistem terlalu cepat berubah, sementara kesadarannya tertinggal beberapa langkah di belakang.
Continue Reading28 Januari 2026
Tentang mahasiswa yang fasih mengkritik ketimpangan, tapi pura-pura lupa pada kesejahteraan gurunya sendiri.
Balada Mahasiswa UIN Bandung 2008
21 Januari 2026
Negara sebagai Event Organizer Paket Lengkap Kemiskinan Struktural
Terima kasih kepada negara yang dengan profesionalisme tinggi berhasil menjadi event organizer penderitaan. Acaranya rutin, skalanya nasional, pesertanya rakyat kecil, sponsornya modal besar. Rundown-nya rapi: pembukaan oleh pidato pejabat, sesi utama berupa kebijakan, penutupnya konferensi pers. Semua berjalan lancar. Tidak ada yang benar-benar dibatalkan hanya nasib rakyat yang ditunda.
Ini bukan kemiskinan sembarangan. Ini kemiskinan struktural: terkurasi, terlembagakan, dan dilegalkan. Negara memastikan ia tidak muncul liar, tapi teratur agar bisa dipantau, dihitung, dan dilaporkan sebagai capaian. Jika kemiskinan adalah acara, maka negara memastikan panggungnya berdiri kokoh.
Negara selalu bilang berpihak pada rakyat kecil. Pertanyaannya: rakyat kecil yang mana? Yang kecil suaranya, kecil daya tawarnya, dan kecil peluang hidupnya. Setiap kebijakan turun, yang pertama kali dikorbankan selalu mereka. Sementara yang besar—modal, korporasi, dan elite—selalu jatuh ke atas. Hukum gravitasi sosial ini tampaknya disusun di ruang rapat ber-AC.
Sejak kecil kami diajari bahwa negara hadir untuk melindungi. Kenyataannya, negara lebih mirip customer service kapital: ramah pada investor, dingin pada warga. Jika rakyat mengeluh, jawabannya “mekanisme pasar”. Jika modal mengeluh, jawabannya insentif pajak. Negara netral, katanya—netral seperti EO yang jelas-jelas memihak sponsor utama.
Katanya ini era pertumbuhan. Tapi entah kenapa yang tumbuh hanya:
-
harga pangan,
-
biaya pendidikan,
-
ongkos hidup,
-
dan rasa putus asa.
Upah? Jangan serakah. Itu nanti mengganggu iklim investasi. Lagipula, lapar bisa dilatih jadi karakter tangguh. Penderitaan, kata mereka, membentuk mental. Aneh saja, mental yang diuji selalu milik mereka yang tak pernah ikut rapat kebijakan.
Kemiskinan lalu dipersonalisasi. Rakyat miskin dianggap kurang literasi, kurang adaptif, kurang inovatif. Padahal mereka hidup di sistem yang sengaja dirancang agar selalu kurang. Tapi menyalahkan sistem berbahaya. Lebih aman menyalahkan korban—lebih murah dan tidak mengganggu sponsor.
Sesekali negara membagikan bantuan. Jumlahnya pas: cukup untuk dokumentasi, kurang untuk kehidupan. Karena tujuan utamanya bukan menghapus kemiskinan, melainkan mengelolanya. Kemiskinan harus tetap ada kalau tidak, siapa yang akan mengisi grafik keberhasilan? Siapa yang akan jadi latar foto saat peresmian program?
Ketika mahasiswa turun ke jalan, kami disebut tidak tahu realitas. Padahal justru karena terlalu tahu, kami muak. Kami tahu hukum bisa selembut busa jika menyentuh pengusaha, dan sekeras beton jika menyentuh rakyat. Kami tahu aparat lebih sigap menjaga aset ketimbang masa depan. Kami tahu “stabilitas” adalah kata sandi untuk kenyamanan elite.
Yang paling ironis: semua ini disebut demokrasi. Rakyat diberi hak memilih lima tahun sekali, lalu diminta diam selama lima tahun berikutnya. Kalau protes, disebut mengganggu ketertiban. Kalau marah, disebut tidak dewasa. Stabilitas siapa yang dijaga? Tentu bukan stabilitas perut kami.
Jika hari ini kamu miskin, jangan panik. Itu bukan kegagalan pribadi. Itu tanda sistem berjalan sesuai proposal. Kamu hanya berada di posisi yang memang disiapkan: penonton pembangunan, bukan penerima hasilnya. Angka statistik, bukan suara.
Tulisan ini tidak menawarkan solusi instan. Bukan karena kami kehabisan gagasan, tetapi karena masalahnya bukan kekurangan solusi melainkan kelebihan kepentingan yang ingin masalah ini terus berlangsung. Selama negara betah menjadi EO, dan kapital betah jadi sponsor utama, sarkasme adalah bahasa paling jujur yang tersisa.
Maka biarlah tulisan ini menjadi catatan dari mereka yang tak kebagian panggung, tapi kebagian beban. Kami menulis bukan untuk disukai, tapi untuk mengganggu. Bukan untuk rukun, tapi untuk jujur.
Karena di negeri yang menormalisasi ketimpangan, amarah adalah bentuk cinta paling waras. Dan di sistem yang memaksa kita menerima nasib, pemberontakan adalah cara paling jujur mencintai hidup.
Dengan cinta, amarah, dan anarki.
Fatum brutum, amor fati.
Sakir Proletariant
Continue Reading16 Januari 2026
Dasamuka Mengatur Meja, Kumbakarna Diajari Bersyukur Menafsir MBG dengan Lensa Sosiologi
06 Januari 2026
Bersyukur di Jalan Paruh Waktu
Dalam kamus hidup, tidak semua kata dapat kita pilih. Ada istilah yang tiba-tiba melekat pada diri kitastatus, peran, kondisi tanpa pernah kita minta. Paruh waktu adalah salah satu kata itu: sebuah keadaan faktual yang menempatkan manusia pada ruang antara, tidak sepenuhnya selesai, tidak pula sepenuhnya kosong.
Filsafat eksistensialis menyebut keadaan ini sebagai situasi. Bukan sesuatu yang bisa segera diubah, tetapi sesuatu yang harus dihadapi. Manusia tidak selalu berdaulat atas kondisi, namun selalu berdaulat atas sikap. Di sinilah syukur menemukan maknanya bukan sebagai penyangkalan, melainkan sebagai cara berdiri dengan utuh di hadapan kenyataan.
Mengabdi, dalam pengertian ini, bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan keputusan sadar untuk tetap mengada. Ketika seseorang memilih bekerja dengan sungguh-sungguh di tengah keterbatasan, ia sedang menyatakan keberadaannya: bahwa hidup tetap layak dijalani dengan tanggung jawab, meski jalannya belum sepenuhnya terang.
Orang-orang yang lebih sepuh memahami hal ini tanpa perlu menyebutnya filsafat. Mereka hidup dalam laku, bukan dalam definisi. Dari mereka kita belajar bahwa syukur tidak selalu bersuara keras. Ia hadir dalam kerja yang dijaga, dalam niat yang dirawat, dan dalam keluhan yang dipilih untuk ditahan. Syukur adalah kesadaran bahwa hidup masih memberi ruang untuk bermanfaat.
Paruh waktu mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan seluruh makna hidup pada kepastian. Harapan tidak selalu hadir sebagai hasil yang segera, tetapi sebagai keteguhan menjalani hari dengan jujur. Dalam ruang antara inilah, manusia belajar menerima tanpa kehilangan martabat.
Kesabaran pun menjelma sebagai bentuk syukur yang paling sunyi. Tetap hadir, tetap bekerja, tetap berbuat baik meski tidak semua usaha langsung terlihat. Manusia tidak ditentukan oleh apa yang ia tunggu, melainkan oleh bagaimana ia menjalani waktu menunggu itu.
Pada akhirnya, bersyukur di jalan paruh waktu berarti menerima hidup sebagaimana ia datang, tanpa berhenti berharap, tanpa berhenti bertumbuh. Karena makna tidak selalu lahir dari kepastian, melainkan dari kesediaan untuk tetap setia pada nilai, di tengah keadaan yang belum selesai.
fatum brutum
amor fati
sic vos non vobis



