Emansipasi Iya Tapi Jangan Sampai Mengganggu Kenyamanan
Setiap tahun, Hari Kartini datang dengan wajah yang hampir sama. Kebaya dipakai, lomba memasak digelar, dan perempuan terutama di sekolah dipuji sebagai sosok anggun, sabar, dan pandai mengurus rumah. Hangat, iya. Tapi kalau dipikir lagi, ada yang terasa janggal: kenapa perayaan emansipasi justru dekat sekali dengan urusan dapur?
Barangkali yang kita rayakan hari ini bukan lagi gagasan yang dulu diperjuangkan, melainkan versi yang sudah dibuat aman.
R.A. Kartini, lewat surat-suratnya dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, tidak pernah membayangkan perempuan hanya sebagai penjaga rumah. Ia gelisah melihat perempuan dikurung oleh tradisi, dibatasi ruang geraknya, dan dijauhkan dari pendidikan. Ia menulis tentang keinginan sederhana, tapi mendasar: perempuan harus bisa belajar, berpikir, dan menentukan hidupnya sendiri.
Namun, lebih dari seratus tahun kemudian, gagasan itu seperti dipersempit. Kartini tetap disebut, tapi pikirannya tidak benar-benar diajak hadir. Ia jadi simbol yang nyaman dipajang, tapi tidak lagi mengusik.
Di banyak ruang, terutama pendidikan, perempuan masih sering dinilai dari hal yang sama: seberapa baik ia mengurus rumah. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang jadi soal adalah ketika ukuran itu seolah menjadi satu-satunya cara untuk dianggap “perempuan yang benar”. Di titik ini, kita tidak lagi bicara soal pilihan, tetapi soal kebiasaan yang terus diulang sampai terasa seperti kodrat.
Di sinilah patriarki bekerja dengan cara yang paling halus. Ia tidak lagi melarang perempuan keluar rumah, tapi membuat batas itu terasa wajar. Bahkan kadang terasa seperti keinginan sendiri.
Julia Suryakusuma pernah menyinggung bagaimana perempuan sering ditempatkan sebagai pendamping, pengatur rumah tangga, dan penjaga harmoni keluarga. Peran-peran ini terdengar mulia, tetapi menjadi sempit ketika tidak pernah diberi ruang untuk ditolak atau dinegosiasikan.
Hal yang hampir sama diingatkan oleh Siti Musdah Mulia. Ia menunjukkan bahwa banyak ketimpangan yang kita anggap wajar sebenarnya lahir dari cara pandang yang sudah lama berat sebelah. Sesuatu yang terus diulang akan terasa benar, meskipun sejak awal ia tidak pernah benar-benar adil.
Hari ini, perempuan memang sudah bergerak jauh. Mereka belajar lebih tinggi, bekerja di berbagai bidang, bahkan memimpin. Namun, di saat yang sama, ekspektasi lama tidak ikut hilang. Urusan rumah tetap dianggap tanggung jawab utama. Di sinilah beban itu terasa berlapis—langkah ke depan terbuka, tapi tuntutan lama masih menarik dari belakang.
Toeti Heraty pernah mengingatkan bahwa perempuan harus menjadi subjek, bukan sekadar objek dalam budaya. Artinya sederhana, tetapi dalam: perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, tanpa terus-menerus menyesuaikan diri dengan harapan yang tidak pernah ia pilih.
Maka, mungkin yang perlu diubah bukan perayaannya, melainkan cara kita memaknainya. Hari Kartini tidak harus diisi dengan hal-hal yang itu-itu saja. Ia bisa menjadi ruang untuk bertanya, untuk berdiskusi, bahkan untuk tidak sepakat dengan cara lama memandang perempuan.
Karena bisa jadi, masalahnya bukan pada kebaya atau dapur, melainkan pada makna yang kita tempelkan di sana.
Kebaya bisa tetap dipakai tanpa harus membatasi. Dapur bisa tetap hangat tanpa harus mengurung. Dan perempuan bisa tetap menjadi apa pun yang ia pilih, tanpa harus merasa bersalah karena keluar dari bayangan lama.
Mungkin terang yang dulu diperjuangkan itu belum benar-benar sampai. Ia masih berjalan pelan, menyusuri ruang-ruang yang belum sempat disentuh.
Dan di antara lipatan kebaya yang rapi, di sela aroma masakan yang akrab, ada suara yang sering nyaris tak terdengar—suara perempuan yang ingin menentukan hidupnya sendiri. Bukan karena ia melawan, tetapi karena ia akhirnya diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Daftar Pustaka
Kartini, R.A. (2005). Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta: Balai Pustaka.
Suryakusuma, Julia. (2011). Ibuisme Negara: Konstruksi Sosial Keperempuanan Orde Baru. Depok: Komunitas Bambu.
Mulia, Siti Musdah. (2007). Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender. Jakarta: Kibar Press.
Heraty, Toeti. (2006). Aku dalam Budaya: Telaah Feminisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fakih, Mansour. (2013). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Continue Reading

