Makan Bergizi Gratis, Ledakan Demografi, dan Potensi Pendapatan Asli Daerah
Kita ini bangsa yang kalau dengar kata “gratis” langsung refleks berdiri tegak. Apalagi kalau ditambah embel-embel “bergizi”. Rasanya seperti kombinasi promo minimarket dan janji kampanye: menggoda, menenangkan, sekaligus bikin penasaran.
Makan bergizi gratis terdengar seperti surga kecil di jam istirahat sekolah. Anak-anak kenyang, orang tua lega, negara terlihat seperti ibu kos yang tiba-tiba baik hati. Tapi sebagai bangsa yang sudah kenyang pengalaman, kita tahu: tidak ada yang benar-benar gratis. Yang ada cuma metode pembayarannya dipindah ke belakang layar, lewat APBN dan APBD yang bekerja lembur.
Nah, di sinilah mulai menarik.
Kita sedang menghadapi ledakan demografi. Anak muda akan membanjir ke usia produktif. Kalau ini film laga, ini adegan slow motion ketika ribuan pasukan siap turun ke medan tempur bernama pasar kerja. Pertanyaannya: mereka datang dengan tenaga prima atau cuma modal percaya diri dan akun LinkedIn?
Secara teori, makan bergizi gratis itu fondasi biologis. Logikanya sederhana: anak sehat, belajar lebih fokus, tumbuh optimal, jadi tenaga kerja berkualitas. Tidak ada yang salah. Bahkan masuk akal.
Tapi hidup tidak pernah sesederhana buku panduan.
Istilah “bergizi” itu lentur. Seberapa bergizi? Apakah mengikuti standar ilmiah ketat, atau standar “yang penting ada lauknya”? Kita ini kreatif. Nasi plus mi instan saja bisa disebut menu kombo. Jangan-jangan nanti yang penting ada karbo, ada protein, selesai. Anak kenyang, laporan jalan, foto distribusi naik ke media sosial dengan caption penuh harapan.
Lalu kata “gratis”. Gratis bagi siswa, iya. Tapi bagi anggaran? Ini proyek logistik raksasa. Bahan pangan, distribusi, dapur umum, tenaga kerja, pengawasan. Itu semua berputar dalam sistem ekonomi.
Dan di titik ini, pemerintah daerah mulai menyeduh kopi lebih serius.
Sejak era desentralisasi pasca-Soeharto, daerah tidak lagi sekadar menunggu jatah. Mereka dituntut kreatif. Ukurannya jelas: Pendapatan Asli Daerah. PAD itu semacam rapor kemandirian. Semakin tebal, semakin percaya diri kepala daerahnya.
Program makan bergizi gratis—yang didorong jadi agenda besar oleh Prabowo Subiantobisa jadi tambang emas kalau dikelola cerdik. Bayangkan kalau bahan pangan diserap dari petani lokal. Peternak ayam kebagian kontrak. UMKM dapur hidup. BUMD ikut main di distribusi. Uang muter di daerah sendiri. Pajak dan retribusi ikut terkumpul. PAD naik pelan tapi pasti.
Ini yang saya sebut jalan ninja fiskal. Tidak perlu menaikkan pajak secara brutal. Cukup pastikan uang dari program sosial tidak kabur ke luar daerah.
Masalahnya, jalan ninja itu tipis. Sedikit saja salah langkah, berubah jadi jalan pintas.
Kalau pengadaan hanya dikuasai pemain lama. Kalau kualitas makanan diturunkan demi efisiensi. Kalau “bergizi” berubah jadi formalitas administratif. Maka yang gemuk bukan anak-anak, tapi laporan serapan anggaran.
Ledakan demografi itu bukan cuma soal jumlah manusia. Itu soal ekspektasi. Generasi muda hari ini tidak cuma ingin kenyang. Mereka ingin peluang. Mereka ingin mobilitas sosial. Mereka ingin masa depan yang tidak cuma dijanjikan di spanduk.
Kalau kita serius, maka makan bergizi gratis harus jadi bagian dari desain besar: gizi kuat, pendidikan waras, industri tumbuh, lapangan kerja nyata. Jangan sampai kita sibuk memastikan anak-anak kenyang, tapi lupa memastikan mereka punya tempat bekerja ketika dewasa.
Karena bayangkan skenario terburuknya: generasi sehat secara fisik, tapi menganggur secara struktural. Itu bukan bonus demografi. Itu antrean panjang dengan kadar hemoglobin bagus.
Kita boleh optimis. Bahkan perlu. Tapi optimisme tanpa skeptisisme itu seperti makan tanpa cek tanggal kedaluwarsa. Terlihat baik-baik saja, sampai perut mulai protes.
Jadi, makan bergizi gratis bisa jadi investasi masa depan sekaligus potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Bisa jadi fondasi menyambut ledakan demografi. Tapi hanya kalau standar gizinya jelas, tata kelolanya ketat, dan orientasinya tidak melulu pada serapan anggaran.
Kalau tidak, ya kita cuma akan jadi bangsa yang bangga dengan program besar, angka PAD naik sedikit, dan generasi muda yang tetap bertanya: “Setelah kenyang, lalu apa?”
