Bersyukur di Jalan Paruh Waktu
Dalam kamus hidup, tidak semua kata dapat kita pilih. Ada istilah yang tiba-tiba melekat pada diri kitastatus, peran, kondisi tanpa pernah kita minta. Paruh waktu adalah salah satu kata itu: sebuah keadaan faktual yang menempatkan manusia pada ruang antara, tidak sepenuhnya selesai, tidak pula sepenuhnya kosong.
Filsafat eksistensialis menyebut keadaan ini sebagai situasi. Bukan sesuatu yang bisa segera diubah, tetapi sesuatu yang harus dihadapi. Manusia tidak selalu berdaulat atas kondisi, namun selalu berdaulat atas sikap. Di sinilah syukur menemukan maknanya bukan sebagai penyangkalan, melainkan sebagai cara berdiri dengan utuh di hadapan kenyataan.
Mengabdi, dalam pengertian ini, bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan keputusan sadar untuk tetap mengada. Ketika seseorang memilih bekerja dengan sungguh-sungguh di tengah keterbatasan, ia sedang menyatakan keberadaannya: bahwa hidup tetap layak dijalani dengan tanggung jawab, meski jalannya belum sepenuhnya terang.
Orang-orang yang lebih sepuh memahami hal ini tanpa perlu menyebutnya filsafat. Mereka hidup dalam laku, bukan dalam definisi. Dari mereka kita belajar bahwa syukur tidak selalu bersuara keras. Ia hadir dalam kerja yang dijaga, dalam niat yang dirawat, dan dalam keluhan yang dipilih untuk ditahan. Syukur adalah kesadaran bahwa hidup masih memberi ruang untuk bermanfaat.
Paruh waktu mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan seluruh makna hidup pada kepastian. Harapan tidak selalu hadir sebagai hasil yang segera, tetapi sebagai keteguhan menjalani hari dengan jujur. Dalam ruang antara inilah, manusia belajar menerima tanpa kehilangan martabat.
Kesabaran pun menjelma sebagai bentuk syukur yang paling sunyi. Tetap hadir, tetap bekerja, tetap berbuat baik meski tidak semua usaha langsung terlihat. Manusia tidak ditentukan oleh apa yang ia tunggu, melainkan oleh bagaimana ia menjalani waktu menunggu itu.
Pada akhirnya, bersyukur di jalan paruh waktu berarti menerima hidup sebagaimana ia datang, tanpa berhenti berharap, tanpa berhenti bertumbuh. Karena makna tidak selalu lahir dari kepastian, melainkan dari kesediaan untuk tetap setia pada nilai, di tengah keadaan yang belum selesai.
fatum brutum
amor fati
sic vos non vobis
