Balada Mahasiswa UIN Bandung 2008
Di lorong-lorong kampus Sunan Gunung Djati, di antara bangku kayu yang retak dan papan tulis penuh coretan, langkah-langkah mahasiswa menggema seperti irama protes yang tak terhitung. Jeans belel, kaos oblong lusuh, sepatu canvas sobek menempel di tubuh mereka—tidak satu pun nama penting, karena mereka adalah kumpulan pencari kebenaran, pemberontak jalanan yang menolak dominasi struktur, mengendus ketidakadilan di setiap sudut, dan hidup sebagai udunan filsafat radikal, di mana kritik sosial bukan sekadar teori, tapi napas yang mereka hirup bersama.
Di bawah beringin tua, DPR, mereka duduk di akar-akarnya yang menjalar seperti struktur sosial yang retak, angin malam menari membawa aroma tanah basah, debu buku, dan gema protes yang tak pernah padam. Di sana, diskusi mengalir, tawa dan seruan keberanian bercampur, dan teori konflik sosial terasa hidup, bukan hanya kata-kata melainkan janji kolektif untuk menentang ketimpangan.
Mereka menulis catatan di pinggir buku, memahat puisi di udara, balada bagi mereka yang tersesat di ruang seminar. “Jika kebenaran adalah harta, kita akan merebutnya dari akar piramida sosial yang menindas, di bawah DPR ini, di antara bayangan yang menari di tanah, di antara teman yang menutup mata pada absurditas dunia. Hidup ini adalah struktur simbolik yang timpang, dan bersama, kita menentangnya dengan keberanian jalanan.”
Malam turun. Kampus sunyi, tapi gema langkah dan bisik kolektif mereka bergemuruh. Lampu jalan, gedung tua, dan akar-akar beringin yang merambat seperti rantai dominasi sosial, menjadi saksi perjuangan yang tak pernah berhenti. Mereka adalah mahasiswa pencari kebenaran, aktivis jalanan, filsuf kolektif, dan balada ini hanyalah bait dari hidup yang mereka pilih bersama hidup sebagai udunan filsafat radikal, di Sunan Gunung Djati 2008, di bawah DPR yang rindang, di mana akar-akarnya berbisik teori kritis, dan angin malam menabur mimpi revolusi menjadi debu bintang di tangan mereka.