Sosiologi dan Seni Mengarsipkan Kesepian
Ada semacam kebanggaan aneh dalam hidup yang penat. Orang-orang menyebutnya “bertahan,” seolah-olah itu prestasi. Padahal kalau jujur, yang terjadi cuma ini: kita lelah, lalu sepakat untuk tidak membicarakannya terlalu serius.
Tatanan masyarakat bekerja rapi. Terlalu rapi. Ia seperti mesin yang tidak pernah salah, kecuali pada satu hal kecil manusia di dalamnya. Tapi itu tidak masalah. Mesin tidak butuh manusia yang utuh, hanya yang cukup patuh untuk tetap berjalan.
Kita bangun pagi, berangkat, duduk, bekerja, pulang. Di sela itu, kita menyebutnya hidup. Kalau terasa kosong, kita tambahkan sedikit hiburan. Kalau masih terasa hampa, kita beri nama: “fase.” Semuanya terdengar lebih baik kalau diberi istilah.
Di titik ini, Sosiologi datang seperti komentator yang sopan. Ia menjelaskan kenapa kita penat, kenapa kita muak, kenapa kita tetap bertahan dalam sistem yang jelas-jelas tidak peduli. Ia sangat pandai merumuskan masalah—sayangnya, dunia tidak pernah berubah hanya karena dirumuskan dengan rapi.
Lucunya, kita tidak benar-benar ingin keluar. Kita hanya ingin mengeluh dengan cara yang terdengar cerdas. Kita diskusikan norma, kita kritik struktur, kita bahas ketimpangan—lalu besoknya kembali bekerja seperti biasa. Konsisten dalam inkonsistensi, itu mungkin pencapaian paling stabil yang kita punya.
Kemuakan lalu jadi semacam gaya hidup. Kita memeliharanya dengan baik. Kita bagikan dalam percakapan, dalam tulisan, dalam candaan setengah serius. Ia jadi identitas kecil yang membuat kita merasa sedikit berbeda, padahal sebenarnya sama saja sama-sama tidak beranjak.
Tatanan masyarakat tidak perlu memaksa terlalu keras. Ia sudah tahu: manusia cukup diberi rutinitas, sedikit harapan, dan alasan untuk takut keluar. Sisanya akan berjalan sendiri.
Dan kita, dengan segala kesadaran yang kita banggakan, tetap tinggal. Tetap ikut. Tetap patuh—dengan versi kita yang lebih reflektif, tentu saja, supaya terasa tidak terlalu menyedihkan.
Mungkin inilah bentuk paling jujur dari zaman ini: kita tahu semuanya tidak beres, tapi memilih untuk tetap berfungsi. Karena rusak secara sadar ternyata lebih nyaman daripada harus membangun ulang dari awal.
Jadi silakan rayakan kepenatan itu. Rawat baik-baik kemuakanmu. Ia tidak akan mengubah apa pun, tapi setidaknya membuatmu merasa mengerti.
Dan di dunia seperti ini, merasa mengerti sering kali sudah dianggap cukup.
pada akhirnya, sosiologi adalah ilmu bangsat lahir dari kegelisahan filsafat, tumbuh di tanah yang makin dekat dengan Nihilisme, dan terlalu sering berhenti sebagai cara elegan untuk menerima dunia yang tidak pernah benar-benar ingin diperbaiki.
Continue Reading