12 Februari 2026


Istilah delusi boomers mungkin lahir dari ruang-ruang komentar media sosial, dari nada bercanda yang separuh kesal. Tapi di balik kelucuannya, ada kegelisahan yang tidak main-main. Ia muncul dari generasi yang merasa ditagih standar keberhasilan lama, sementara panggung sosial-ekonominya sudah diganti total. Yang disebut “delusi” itu sesungguhnya bukan soal gangguan persepsi, melainkan benturan antara ingatan pembangunan dan realitas krisis kapitalisme hari ini.

Generasi baby boomers tumbuh dalam suasana yang setidaknya secara relatif menawarkan janji stabilitas. Negara hadir cukup kuat, sektor formal berkembang, harga tanah belum menjadi ladang spekulasi masif, dan pendidikan tinggi belum sepenuhnya berubah menjadi komoditas mahal. Ada keyakinan yang terasa masuk akal: bekerja keras, bertahan di satu pekerjaan, menabung, lalu pelan-pelan naik kelas. Mobilitas sosial bukan dongeng; ia punya jalur yang terlihat.

Masalahnya, kapitalisme tidak pernah diam. Ia bergerak, mengubah bentuknya, dan seringkali meninggalkan mereka yang tidak menyadari pergeseran itu. Dari industri manufaktur yang relatif stabil, kita masuk ke ekonomi jasa, lalu ke kapitalisme platform. Kerja tetap berubah menjadi kontrak. Kontrak berubah menjadi proyek. Proyek berubah menjadi gig. Risiko yang dulu ditanggung negara dan perusahaan, kini dipindahkan ke pundak individu. Jaminan sosial menipis, biaya hidup melonjak, sementara upah riil berjalan di tempat.

Namun narasi lama tetap dipertahankan: kalau gagal, berarti kurang giat. Kalau belum punya rumah, berarti kurang hemat. Seolah-olah struktur ekonomi tidak pernah berubah. Seolah-olah harga properti yang melambung hanyalah soal manajemen keuangan pribadi. Di sinilah kritik generasi muda menemukan nadanya. Mereka tidak sekadar menolak nasihat; mereka menolak penyederhanaan.

Dalam kacamata ekonomi-politik, yang bekerja di sini adalah mitos meritokrasi. Sistem yang timpang membutuhkan cerita bahwa ia tetap adil. Kerja keras dijadikan mantra universal agar ketimpangan tampak sebagai akibat perbedaan usaha, bukan distribusi kekuasaan. Padahal akumulasi kapital hari ini semakin terkonsentrasi. Tanah, aset, dan akses modal dikuasai oleh segelintir elite, sementara mayoritas bergulat dengan cicilan, kontrak jangka pendek, dan ketidakpastian masa depan.

Ironisnya, sebagian boomers sendiri pernah menikmati kebijakan yang lebih berpihak pada publik: subsidi, harga tanah yang belum sepenuhnya dikapitalisasi, serta ekspansi lapangan kerja formal. Tetapi memori kolektif itu sering dibingkai sebagai kemenangan personal semata. Di situlah terjadi semacam amnesia struktural. Keberhasilan dianggap murni buah etos kerja, bukan juga hasil konfigurasi politik-ekonomi yang mendukung.

Istilah delusi boomers memang terdengar kasar. Tapi kemunculannya menandai sesuatu yang lebih dalam: frustrasi kelas pekerja dan kelas menengah muda yang merasa tangga mobilitas sosialnya mulai rapuh. Mereka hidup dalam masyarakat risiko, meminjam istilah Ulrich Beck, di mana kegagalan dipersonalisasi, sementara sumber masalahnya sistemik. Ketika semua risiko ditarik ke ranah individu, kritik terhadap struktur menjadi terdengar seperti keluhan.

Pada akhirnya, konflik ini bukan sekadar soal beda generasi. Ia adalah soal siapa yang diuntungkan oleh fase tertentu kapitalisme dan siapa yang mewarisi krisisnya. Jika kita terus membacanya sebagai perang usia tua melawan muda kita justru melewatkan inti persoalannya: distribusi sumber daya yang semakin timpang dan legitimasi sistem yang dipertahankan lewat bahasa moralitas.

Barangkali yang perlu dikoreksi bukan hanya cara satu generasi memandang generasi lain, tetapi cara kita memahami perubahan struktur yang sedang berlangsung. Tanpa kesadaran itu, kerja keras akan terus dielu-elukan sebagai solusi tunggal, sementara ketimpangan tetap beroperasi dengan tenang. Dan istilah “delusi” akan terus dipakai bukan karena orang tidak rasional, melainkan karena sistem terlalu cepat berubah, sementara kesadarannya tertinggal beberapa langkah di belakang.