19 Desember 2025

Masalah utama Instagram Kecamatan Rancaekek bukan pada frekuensi unggahan, melainkan pada ingatan yang dipendekkan secara sistematis. Admin media sosial tampak bekerja seolah Rancaekek lahir bersamaan dengan Rancaekek Kencana seolah wilayah ini sejak awal rapi, tertata, dan siap dijadikan panggung birokrasi. Ini bukan sekadar salah baca, tetapi penghapusan sejarah secara halus.

Padahal, Rancaekek Kencana bukan titik mula. Ia adalah produk akhir dari sebuah intervensi pembangunan berbasis pengembang: kawasan perumahan (Perumnas) yang dirancang dengan logika modern, kemudian diserahkan kepada pemerintah daerah. Artinya jelas: keunggulan tata ruang dan administrasi Rancaekek Kencana bukan hasil evolusi sosial warga, melainkan hasil desain kapital dan kebijakan.

Namun di tangan admin Instagram, sejarah ini diputar balik. Rancaekek Kencana diperlakukan sebagai tolok ukur kemajuan, seolah wilayah lain tertinggal karena kurang berupaya, bukan karena sejak awal tidak pernah diberi modal yang sama. Di sinilah kekerasan simbolik bekerja: yang lahir belakangan diposisikan sebagai yang paling maju, sementara yang lebih dulu ada dipaksa menerima label “belum berkembang”.

Admin IG Kecamatan Rancaekek tampak gagap membaca bahwa wilayah ini tumbuh secara asimetris. Ada ruang yang lahir dari desa, ada ruang yang lahir dari pabrik, dan ada ruang yang lahir dari perumahan pengembang. Menyamakan semuanya dalam satu narasi keberhasilan visual adalah kesalahan sosiologis yang serius.

Lebih problematis lagi, Instagram kecamatan berfungsi sebagai mesin legitimasi sejarah palsu. Dengan terus-menerus menampilkan Rancaekek Kencana, negara lokal seolah berkata: inilah Rancaekek yang ideal. Yang lain—permukiman buruh, kawasan padat, wilayah lama diposisikan sebagai deviasi yang perlu ditertibkan, bukan sebagai bagian sah dari sejarah wilayah.

Ini bukan soal admin malas turun lapangan. Ini soal cara pandang kelas. Kamera diarahkan ke ruang yang lahir dari kapital terencana, bukan ke ruang yang lahir dari kerja bertahun-tahun warga. Yang rapi dipuja, yang berjejak sejarah dianggap beban.

Secara sosio-historis, ini berbahaya. Ketika wilayah yang berasal dari intervensi pengembang dijadikan pusat narasi, maka sejarah agraris, industrial, dan migrasi buruh Rancaekek dihapus dari ingatan publik. Instagram tidak lagi menjadi alat dokumentasi, melainkan alat seleksi ingatan: mana yang layak dikenang, mana yang cukup dilupakan.

Kritik ini tidak sedang meminta semua wilayah tampil sama banyak. Yang dikritik adalah logika kolonisasi narasi, di mana satu ruang yang lahir dari modal diberi hak bicara lebih besar dibanding ruang yang lahir dari kerja sosial.

Jika admin Instagram Kecamatan Rancaekek tidak segera keluar dari logika ini, maka yang mereka kelola bukan media sosial, melainkan arsip ketimpangan. Rancaekek akan terus ditampilkan sebagai wilayah yang rapi di satu sudut, dan bermasalah di sudut lain—tanpa pernah dijelaskan bahwa ketimpangan itu sengaja diproduksi sejak awal.

Rancaekek Kencana bukan masalah.
Yang bermasalah adalah ketika ia dijadikan asal-usul, bukan hasil.

Dan selama sejarah terus diputar balik demi konten yang aman, Instagram kecamatan tidak sedang melayani warga ia sedang mendidik publik untuk lupa.