27 September 2025
18 September 2025
Extractor secret Code
Kode OTP
Bookmarklet untuk akses cepat kode OTP
16 September 2025
Skandal Cinta Kosmik
14 September 2025
Guru IPS, Ledakan Demografi, dan Tantangan Zaman Digital
Siapa bilang pelajaran IPS itu membosankan? Justru di dalamnya ada cerita besar tentang dunia kita, tentang manusia, dan tentang masa depan bangsa. Nah, tantangan guru IPS sekarang makin unik, karena murid-murid hidup di era digital, sementara di luar sana kita menghadapi “ledakan demografi” alias jumlah generasi muda yang makin membengkak.
Bayangkan sebuah kelas SMP. Guru membawa peta besar, sementara murid-murid lebih sibuk dengan ponselnya. Dunia sudah berubah. Data mengalir cepat, video satu menit bisa menjelaskan sejarah perang dunia, dan istilah seperti deep learning atau kecerdasan buatan pun mulai mampir di telinga remaja. Guru IPS tak bisa lagi hanya membaca buku teks. Ia harus kreatif, mengaitkan teori dengan kehidupan nyata murid.
Kalau diajarkan dengan cara begitu, IPS jadi terasa dekat, nyata, bahkan seru. Murid bukan cuma menghafal istilah, tapi juga melihat bahwa mereka bagian dari cerita besar yang sedang berlangsung.
Ledakan demografi bisa jadi bonus, bisa juga jadi beban. Semua tergantung bagaimana generasi muda dipersiapkan. Guru IPS punya peran penting di sini: bukan hanya mengajar, tapi juga menginspirasi. Bukan hanya menjelaskan peta, tapi menyalakan kompas dalam diri murid, agar tahu ke mana harus melangkah.
Jadi, mari kita lihat lagi peran guru IPS di sekolah. Ia bukan sekadar penjaga hafalan, tapi penenun masa depan. Dengan adaptasi, kreativitas, dan hati yang hangat, pelajaran IPS bisa berubah dari “mata pelajaran hafalan” menjadi “mata pelajaran kehidupan.”
10 September 2025
Cerita tentang PIP

PIP adalah cerita yang selalu berulang tiap tahun ajaran baru. Sebuah program yang lahir dari niat baik, tetapi sering berjalan dengan langkah pincang. Anak-anak di kelas bertanya lirih kepada gurunya, “Bu, saya dapat tidak?” Pertanyaan sederhana, tetapi di belakangnya ada wajah orang tua yang sudah resah menghitung biaya ongkos harian, buku tulis, dan seragam baru yang tak kunjung terbeli.
Di papan pengumuman sekolah, nama-nama penerima tercetak rapi. Beberapa siswa bersorak kecil, sisanya hanya menelan ludah. Di ruang Tata Usaha, fotokopi kartu keluarga, KIP, dan buku tabungan menumpuk seperti bukti kemiskinan yang harus diulang-ulang agar dipercaya. Seakan-akan miskin masih harus dipamerkan di atas kertas agar layak dianggap miskin.
Lalu tibalah hari pencairan. Bank penuh sesak dengan antrean. Ada tawa lega dari yang berhasil mencairkan, ada wajah hampa dari yang namanya tidak pernah muncul. Di tengah keramaian itu, terselip kenyataan pahit: PIP tidak selalu hadir untuk yang paling membutuhkan, tetapi lebih sering menjadi semacam undian ada yang beruntung, ada yang menunggu, ada yang terus kecewa.
PIP memang menolong, tetapi juga menorehkan getir. Ia menjanjikan agar tidak ada anak yang putus sekolah, tetapi ongkos angkot tidak bisa dibayar dengan janji, dan harga beras tidak turun hanya karena nama tercantum di daftar penerima.
Meski begitu, orang tua tetap menunggu. Guru tetap mendata. Anak-anak tetap berharap. Dalam hidup yang serba pas-pasan, bahkan secuil bantuan pun menjadi alasan untuk terus bertahan.
Begitulah PIP: sebuah cerita getir yang terus diulang, setiap tahun, di setiap sekolah, di setiap keluarga yang berjuang di tengah kekurangan.
PIP bukan sekadar angka dalam rekening, melainkan sebuah simbol:
bahwa negara, setidaknya, mencoba hadir di antara deru langkah kecil
anak-anak menuju masa depan.
G.A
Tendik Dibatas Api
Continue Reading
08 September 2025
Cinta Eksistensi Absurditas dan Revolusi
Jean-Paul Sartre pernah menulis bahwa cinta adalah proyek yang hampir mustahil. Dua kebebasan bertemu, lalu saling mencoba memiliki. Tetapi kebebasan, pada hakikatnya, tidak bisa dipenjara. Maka setiap upaya untuk menjadikan cinta sebagai kepemilikan sering berujung pada kegagalan. Dari situ lahirlah kecemburuan, luka, pengkhianatan. Cinta berubah dari pelukan hangat menjadi borgol emas.
Namun Albert Camus, sahabat eksistensial yang lebih riang, mengingatkan kita: jangan menuntut makna final dari cinta. Sama seperti hidup, cinta itu absurd. Kita mencintai meski tahu akhirnya bisa hancur. Kita mengulang jatuh cinta meski sadar batu itu akan menggelinding turun seperti nasib Sisyphus. Dan di sanalah justru letak keberanian kita. Cinta tidak harus menjanjikan kekekalan, cukup menjadi alasan untuk tersenyum di tengah absurditas.
Nietzsche masuk dengan teriakannya yang khas. Ia menolak cinta yang tunduk pada moral lama, pada dogma, atau pada tata aturan yang mencekik. Baginya, cinta harus menjadi afirmasi hidup: teriakan lantang bahwa kita berani berkata “iya” pada dunia, sekalipun dunia itu kejam dan penuh kehancuran. Cinta bukan sekadar rasa, tetapi juga ledakan vitalitas, sebuah cara untuk menari di tepi jurang sambil tetap merasa hidup.
Di sudut lain, Marx menatap kita dengan senyum getir. Ia tahu cinta tak pernah steril dari ekonomi politik. Kapitalisme menjual cinta dalam bentuk paket bulan madu, perhiasan, iklan parfum, bahkan dalam algoritma aplikasi kencan. Cinta dijadikan komoditas, dipasarkan, diberi harga. Kita sering mengira sedang mencinta, padahal sebenarnya hanya sedang memainkan skrip yang ditulis oleh pasar. Marx mengingatkan bahwa ada relasi produksi bahkan dalam pelukan paling mesra.
Mikhail Bakunin, sang anarkis, tak mau kalah. Ia berteriak bahwa cinta sejati hanya bisa lahir dari kebebasan mutlak. Tidak ada negara, tidak ada hukum adat, tidak ada tangan besi yang boleh mengatur siapa boleh mencintai siapa. Bagi Bakunin, cinta adalah api revolusi kecil yang menyala di dada manusia yang menolak diperintah. Cinta menjadi ruang perlawanan, tempat dua orang merobohkan tembok yang membatasi kebebasan mereka.
Maka cinta tampil bukan hanya sebagai bunga, tapi juga sebagai pisau. Ia bisa menjadi absurditas yang lucu, bisa menjelma nihilisme yang getir, bisa tergelincir menjadi komoditas, atau justru meledak menjadi revolusi. Cinta bukan sekadar soal hati, tapi juga soal tubuh, soal struktur, soal kebebasan. Ia bisa membuat manusia pasrah, tapi juga bisa membuat manusia berontak.
Dan pada akhirnya, kita hanya bisa mengaku: cinta adalah pilihan. Ia tidak menunggu izin dari Tuhan, pasar, atau negara. Ia lahir dari keberanian manusia untuk menggenggam tangan seseorang, meski tahu genggaman itu rapuh. Ia berdiri di atas tanah yang retak, menatap langit yang kosong, tapi tetap berani berkata: aku memilihmu.
Itulah cinta eksistensial, absurd, komoditas, sekaligus revolusi. Sebuah paradoks yang, justru karena itulah, terus membuat kita hidup.
07 September 2025
Jurusan Sosiologi: Kritikus Dunia, Penonton Realita
Mari kita jujur. Sosiologi di UIN Bandung sering kali terasa kayak konser musik tanpa sound system: teorinya banyak, tapi suaranya nggak pernah sampai ke luar kelas. Kita diajari Marx, Weber, Durkheim, Parsons, bahkan nama-nama yang bikin lidah kepleset, tapi giliran keluar kampus, realitas sosial jalan terus tanpa pernah menoleh ke kita.
Kampus lebih sibuk mencetak sarjana ketimbang mencetak keberanian. Ujung-ujungnya, jurusan ini mirip pabrik—mesin administrasi yang ngeluarin ijazah dengan barcode, bukan ruang produksi pemikiran. Hasilnya? Lulusan yang hafal teori struktur-agensi, tapi bingung menjelaskan kenapa tukang parkir bisa lebih berkuasa daripada mahasiswa semester akhir.
Bahasa yang dipakai pun seperti mantra yang nggak bisa dipahami masyarakat. Skripsi ditulis dengan jargon tebal, tapi orang tua di rumah cuma bisa geleng kepala: “Jadi, kamu empat tahun kuliah belajar apa?” Kuliah lapangan? Lebih mirip wisata akademik. Jalan ke kampung, tanya tiga pertanyaan, foto bareng, lalu pulang. Padahal Bandung dan Jawa Barat penuh kasus sosial yang bisa jadi laboratorium hidup, dari banjir Dayeuhkolot sampai relasi patron-klien di pasar tradisional.
Ironisnya, psikologi bisa laku di Instagram karena ngomongin mental health, antropologi keren karena bisa nulis soal budaya dan kuliner, sementara sosiologi sibuk dengan seminar berjudul panjang yang audiensnya hanya mahasiswa sosiologi itu sendiri. Ilmu yang katanya kritis justru kehilangan ruang publik.
Jurusan ini butuh keberanian buat keluar dari pabrik pencetak pekerja. Sosiologi seharusnya bukan sekadar tiket jadi dosen atau admin kantor, tapi cara membaca dunia. Kalau terus begini, sosiologi akan tetap jadi ilmu yang “lengkap di buku, kosong di jalanan.” Sebuah disiplin yang pandai mengkritik, tapi takut dikritik.
Jujur saja, kalau sosiologi UIN Bandung tidak berani merombak diri, cepat atau lambat ia akan kalah relevan dibanding tukang rokok eceran yang lebih mengerti jaringan sosial daripada mahasiswa yang hafal Habermas.
Continue Reading04 September 2025
Tentang Sosiologi
Sosiologi itu apa sih? Banyak yang bilang ini ilmu serius tentang masyarakat tapi jangan salah, sosiologi itu sebenarnya ilmu yang paling kepo, cerewet, dan kadang ngeselin tapi seru. Tugasnya bukan cuma bikin teori ribet di buku, tapi ngintip, nanya, dan ngerti kenapa orang bisa hidup bareng walau beda-beda banget.
Sosiologi itu kayak detektif kehidupan sehari-hari. Misalnya, lihat anak-anak nongkrong di kantin: siapa yang duduk sama siapa, siapa yang cuma numpang eksis buat story Instagram, atau kenapa ada yang selalu bawa bekal macem-macem padahal bisa beli di kantin. Semua hal kecil itu menarik buat sosiologi. Setiap kebiasaan sehari-hari, dari antre makan, gaya bahasa di TikTok, sampai poster demo di sekolah, bisa jadi “materi sosiologi” yang seru untuk dianalisis.
Yang bikin sosiologi gokil adalah ia bisa serius tapi nggak serius-serius amat. Ia punya teori, punya sejarah panjang, punya tokoh-tokoh keren kayak Auguste Comte atau Karl Marx. Tapi di sisi lain, sosiologi juga hobi ngejek kebiasaan sosial yang dianggap normal. “Normal” itu buat siapa? Diproduksi siapa? Itulah pertanyaan yang bikin sosiologi kayak teman ngobrol yang selalu kepo tapi lucu.
Sosiologi ngajarin kita untuk ngeliat dunia dari banyak sudut. Gaya hidup teman-teman, tren media sosial, sampai ritual kecil di sekolah semua bisa dianalisis. Dan lucunya, seringkali hal-hal yang kita anggap biasa justru menyimpan makna besar. Misalnya, siapa yang selalu kebagian tugas kelompok, siapa yang jadi “pengamat” di lapangan olahraga, atau kenapa poster tertentu bisa bikin ramai di sekolah.
Selain itu, sosiologi itu punya sisi satir senang menertawakan hal-hal yang sok serius. Misal, acara resmi di sekolah kadang lebih mirip sandiwara daripada rapat beneran. Sosiologi bilang: “Eh, lihat deh, ini manusia lagi main peran!” Tapi dari situlah kita belajar banyak: kenapa kekuasaan bisa jalan begitu, bagaimana solidaritas terbentuk, dan kenapa kita harus sadar sama dunia sosial kita.
Jadi, sosiologi itu bukan cuma tentang buku dan teori. Ia tentang melihat hidup sehari-hari dengan mata kritis tapi tetap enjoy, menikmati tanda tanya, dan ngerti bahwa hidup sosial nggak pernah sesederhana yang kita kira.
Singkatnya: sosiologi itu seru, cerewet, kadang ngeselin, tapi bikin kita pinter melihat dunia. Serius tapi santai. Kritik tapi bisa ketawa. Dan yang paling penting: bikin kita sadar kalau dunia ini penuh warna, absurd, tapi asik untuk ditafsirkan.
