Kami Pernah Berteriak Sampai Sistem Mengundang Kami Masuk
Reformasi bagiku dimulai dari jalan menuju Jatinangor.
Dari balik angkot yang sesak, aku melihat kampus dan gerbang lama Universitas Padjadjaran dipenuhi pamflet, mural, teatrikal, juga wajah-wajah muda yang bicara tentang rakyat seolah itu agama baru. Ada yang berteriak soal buruh, tanah, kemiskinan, militerisme, juga negara yang terlalu lama berdiri di atas punggung orang kecil.
Aku masih SD waktu itu.
Belum paham Marx, Gramsci, atau apa itu oligarki. Tapi aku tahu ada kemarahan yang terasa jujur.
Dan mungkin sejak saat itu aku diam-diam jatuh cinta pada dunia gerakan.
Bertahun kemudian aku masuk ke dalamnya.
Menghabiskan waktu di sekretariat pengap, diskusi yang tak selesai sampai pagi, membagi selebaran, ikut mimbar bebas, percaya bahwa mahasiswa adalah moral force yang suatu hari bisa mengguncang negara.
Ada masa ketika ruang kelas terasa terlalu sempit untuk menjelaskan kenyataan.
Karena di luar sana, rakyat kecil dipaksa terus mengalah oleh pembangunan yang tidak pernah benar-benar milik mereka.
Kami bicara tentang perlawanan dengan penuh gairah.
Tentang kapitalisme yang rakus.
Tentang kekuasaan yang selalu pandai berganti wajah.
Tentang demokrasi yang kadang hanya mengganti siapa yang duduk di kursi, bukan siapa yang tetap diinjak.
Dan ya, waktu itu aku percaya perubahan bisa lahir dari teriakan, solidaritas, dan keberanian kolektif.
Sampai akhirnya usia dewasa datang membawa ironi.
Sebagian kawan gerakan masuk partai.
Sebagian masuk lembaga.
Sebagian mulai lebih fasih bicara anggaran daripada perjuangan.
Kata “rakyat” tetap dipakai, tapi sering terdengar seperti slogan yang kehilangan luka.
Aku patah hati di situ.
Karena ternyata sistem tidak selalu membungkam perlawanan dengan pentungan. Kadang cukup dengan fasilitas, posisi, dan kenyamanan.
Rezim boleh tumbang, tapi watak kekuasaan sering tetap sama: mencari cara agar perlawanan menjadi jinak.
Namun sejauh apa pun kecewa itu tumbuh, aku tetap berutang pada dunia gerakan.
Dari sana aku belajar bahwa sejarah tidak pernah berubah karena belas kasihan elite. Selalu ada orang-orang keras kepala yang memilih berdiri, meski tahu mereka bisa kalah.
Dan mungkin tragedi generasi kami memang itu:
dibesarkan oleh romantisme perlawanan,
lalu dewasa di tengah kenyataan bahwa revolusi pun bisa dinegosiasikan.